Benarkah Lafazh Kullu Dhalaalatin Fin-Naar Tidak Shahih?

Al-Akh menulis :
Orang-orang yang 'suka membid'ahkan' biasanya suka memakai hadits riwayat Muslim, Nasa'i dan Ibn Majah, bahwa "Setiap perkara yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah dalalah (sesat) dan setiap yang sesat adalah Neraka". Riwayat dari Nasa'i berderajat hasan, dari Ibn Majah berderajat dha'if, dan dari Muslim berderajat Sahih. Ibn Taymiyyah dalam Majmu'a Fatawa (19:191) mengatakan bahwa klausa 'setiap yang sesat adalah di Neraka' tidak sahih dari Nabi SAW, yang dikonfirmasi oleh Shaykh Abdul Fattah Abu Ghudda (salah seorang ahli hadits mutaakhir).

[Ana katakan] Semoga Allah memudahkan ana dan antum semua memahami nash ini dan melapangkan hati menerima Al-Haqq. Perlu ditekankan nash perkataan – Wa Kullu Bid’atin Dhalaalatun – diriwayatkan secara Masyhur (diriwayatkan oleh lebih dari dua orang perawi dari kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum). sedangkan tambahannya – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar - diriwayatkan dari beberapa jalan yang berporos kepada perawi Ja'far, dari ayahnya, dari Jabir radhiyallahu 'anhu, Insya Allah ana akan tuliskan tanggapannya di bawah guna menjelaskan kekeliruan antum (penulis) tentang pernyataan "tidak shahih-nya" lafazh tambahannya – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar.

CATATAN
Namun sebelum itu ana hendak bertanya mengenai tulisan antum :
Ibn Taymiyyah dalam Majmu'a Fatawa (19:191) mengatakan bahwa klausa 'setiap yang sesat adalah di Neraka' tidak sahih dari Nabi SAW, yang dikonfirmasi oleh Shaykh Abdul Fattah Abu Ghudda (salah seorang ahli hadits mutaakhir).

[Ana katakan] Ana telah membuka kitab yang dimaksud dan, Al-Hamdu Lillah, memang ada beliau menukil hadits tersebut, namun tidak ada SAMA SEKALI takhrij beliau rahimahullah menyatakan tambahan “setiap yang sesat adalah di Neraka adalah tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”, ana mau minta penjelasan dan klarifikasi dari antum, bagaimana rincian takhrij beliau tentang lafazh tambahan ini? Sebagai informasi, bahkan (diinformasikan kepada kami) di juz lain beliau menukil dan berhujjah dengan tambahan ini, silahkan lihat (31/36-37) dan (11/471-472) atau mungkin antum belum pernah membaca langsung kitab ini?

Adapun kemudian, dalam tulisan-tulisan di bawah ini, insya Allah akan ana lampirkan secara utuh dengan sanadnya jalan-jalan yang melampirkan tambahan – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar setelah ana melampirkan lafazh Muslim dan jalan-jalan yang sampai kepada beliau rahimahullah.
---------------------------------------------------
SANAD-SANAD IMAM MUSLIM 
Riwayat-12
Pada sanad Pertama :
Muslim berkata – dan telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul-Mutsanna, menceritakan kepada kami ‘Abdul-wahhab ibnu ‘Abdil-Majid, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhuthbah memerah kedua mata beliau dan meninggikan suaranya, dan beliau amat keras kemarahannya, seakan beliau (seorang panglima) yang berkata memperingatkan pasukan  - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”. Dan beliau bersabda, “Telah dibangkitkan aku dan hari kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan beliau mendekatkan antara dua jarinya, telunjuk dan tengah dan beliau bersabda, “Amma ba’du (adapun setelah itu), maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya, dan setiap perkara baru adalah Bid’ah, setiap bid’ah adalah Dhalaalah (kesesatan).” Kemudian beliau bersabda, Aku lebih berhak (dicintai) bagi setiap mu’min dari dirinya sendiri. Barangsiapa yang meninggalkan harta maka itu bagi keluarganya, barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku.”
-----------
Pada sanad Kedua :
(Muslim berkata – ) dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdu ibnu Humaid, menceritakan kepada kami Khalid ibnu Mukhlad, menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Bilal, menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, katanya, Aku telah mendengar Jabir ibnu ‘Abdillah berkata,
“Pernah ada khuthbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at, beliau mengucap hamdalah kepada Allah dan menyanjung atas-Nya kemudian bersabda sesudah itu dan sungguh beliau meninggikan suaranya.”
Kemudian perawi mengiring hadits semisal.
-----------
Pada sanad Ketiga :
(Muslim berkata – ) dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhuthbah kepada manusia , beliau mengucap hamdalah kepada Allah, dan menyanjung atas-Nya dan dengan apa yang Dia memang pemiliknya, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan (oleh-Nya) maka tidak ada satupun yang sanggup memberi petunjuk padanya. Dan sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah,”
Kemudian perawi mengiringi hadits Ats-Tsaqafiy (yakni ‘Abdul-wahhab ibnu ‘Abdil-majid, perawi pada sanad pertama – peny.).

HR. Muslim, Shahih no.867 (dengan tiga jalur sanad yang porosnya di perawi Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

==================================================================
SANAD-SANAD BAGI HADITS DGN TAMBAHAN - WA KULLU DHALAALATIN FIN-NAAR
==================================================================
[Ana katakan] Pada hadits imam Muslim memang tidak ada lafazh tambahan – Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar (Dan setiap kesesatan berada di neraka) – tapi pada jalur lain ada.

Seperti pada sanad An-Nasa’iy sbb :
Riwayat-13
An-Nasa’iy berkata – mengabarkan kepada kami ‘Utbah ibnu ‘Abdillah, katanya, memberitakan kepada kami Ibnul-Mubarak, dari Sufyan, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam Khuthbahnya, di mana beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah, dan menyanjung atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah kesesatan, DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan ketika beliau menyebutkan As-Saa’ah memerah kedua pipi atas beliau, dan meninggi suara beliau dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.
Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”

R. An-Nasa’iy, Sunan (Al-Mujtaba) no.1578 (3/188-189), juga dalam kitab besar beliau As-Sunan Al-Kubra no.1786 (1/550), 5892 (3/449).
---------------------
[Ana katakan] Sedangkan pada sanad Al-Baihaqiy sbb :
Riwayat-14
Al-Baihaqiy berkata – mengabarkan kepada kami ‘Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan, mengabarkan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad Ath-Thabraniy, menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad Al-Firyabiy, menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, menceritakan kepada kami Ibnul-Mubarak, dari Sufyan, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di khuthbah beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah dan memuji atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satu pun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya. Dan setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”

HR. Al-Baihaqi, Al-I’tiqad Wal-Hidayah Ilaa Sabiilir-Rasyaad ‘Ala Madzhabis-Salaf Wa Ashhaabil-Hadits hal.229
-------------------
[Ana katakan] Kemudian Ibnu Khuzaimah menurunkan dua sanad, sanad yang kedua serupa dengan An-Nasa’iy sbb :
Riwayat-15
Ibnu Khuzaimah berkata – mengabarkan kepada kami Abu Thahir, menceritakan kepada kami Abu Bakr, menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu ‘Isa Al-Bisthamiy, menceritakan kepada kami Anas, yakni Ibnu ‘Iyadh, dari Ja’far ibnu Muhammad.
[Ibnu Khuzaimah berkata -] dan menceritakan kepada kami ‘Utbah ibnu ‘Abdillah, mengabarkan kepada kami ‘Abdullah ibnul-Mubarak, mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khuthbahnya, beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah dan memuji atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah kesesatan, DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan ketika beliau menyebutkan As-Saa’ah memerah kedua pipi atas beliau, dan meninggi suara beliau dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.
Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku (atau) atas tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”

HR. Ibnu Khuzaimah [223-311H], Shahih no.1785 (3/143), cet. Al-Maktabul-Islamiy, Beirut 1970/1390H, Tahqiq DR.Muhammad Mushthafa Al-A’zhamiy.

==========================
DIAGRAM SANAD IMAM MUSLIM
==========================
Diagram sanad Pertama :
6. Muslim dengan tiga sanad, sanad yang pertama sbb :
5. Muhammad ibnul-Mutsanna
4. ‘Abdul-Wahhab ibnu Al-Majid Ats-Tsaqafiy
3. Ja’far ibnu Muhammad ibnu ‘Ali ibnul-Husain ibnu ‘Ali ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum
2. Ayahnya (Muhammad ibnu ‘Ali)
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad yang kedua sbb : 
7. Muslim
6. ‘Abd ibnu Humaid
5. Khalid ibnu Mukhlad
4. Sulaiman ibnu Bilal
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad yang ketiga sbb :
7. Muslim
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah
5. Waki’
4. Sufyan Ats-Tsauriy
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma


=================================================================
DIAGRAM SANAD DENGAN TAMBAHAN LAFAZH – KULLU DHALAALATIN FIN-NAAR
=================================================================
[Ana katakan] Kemudian An-Nasa’iy (Riwayat-13) memiliki rangkaian sanad mirip dengan sanad Muslim yang ketiga berporos pada Sufyan sbb :
7. An-Nasa’iy
6. ‘Utbah ibnu ‘Abdillah ibnu ‘Utbah Al-Yahmidiy Al-Marwaziy
5. ‘Abdullah ibnul-Mubarak
4. Sufyan ibnu Sa’id ibnu Masruq Ats-Tsauriy
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

[Ana katakan] Semua perawi Bukhari dan Muslim, kecuali Ayahnya Ja’far, dia hanya perawi Muslim sedangkan perawi ‘Utbah Al-Marwaziy dia adalah Syaikh dari An-Nasa’iy rahihumullah.

Al-Hamdu Lillah, ternyata Syaikh An-Nasa’iy (‘Utbah) memiliki saksi-saksi yang tsiqah salah satunya yakni Hibban ibnu Musa (tertulis dalam kitab Hayyan, ini keliru) , seorang perawi Bukhari dan Muslim dalam sanad Al-Baihaqi juga berporos pada ‘Abdullah ibnul-Mubarak (Lihat Riwayat-14) sbb :
10. Al-Baihaqiy
9. ‘Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan
8. Sulaiman ibnu Ahmad Ath-Thabraniy (penulis kitab-kitab Al-Mu’jam, seorang Imam Al-Hafizh)
7. Ja’far ibnu Muhammad Al-Firyabiy  [w298H] beliau se zaman dengan An-Nasa’iy [215-303H]
6. Hibban ibnu Musa   [perawi Bukhari-Muslim]
5. ‘Abdullah ibnul-Mubarak   [perawi Bukhari-Muslim]
4. Sufyan Ats-Tsauriy   [perawi Bukhari-Muslim]
3. Ja’far   [perawi Bukhari-Muslim]
2. Ayahnya   [perawi Muslim]
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma   [perawi Bukhari-Muslim]

[Ana katakan] Apabila ingin tambah, maka perhatikan jalan lain yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah rahimahullah (lihat Riwayat-15), dengan dua sanadnya :

Sanad pertama :
8. Ibnu Khuzaimah
7. Abu Thahir (Muhammad)
6. Abu Bakr (Muhammad ibnu Ishaq)
5. Al-Husain ibnu ‘Isa Al-Bisthamiy
4. Anas ibnu ‘Iyadh
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Muhammad ibnu ‘Ali
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad kedua :
7. Ibnu Khuzaimah
6. 'Utbah ibnu 'Abdillah
5. 'Abdullah ibnul-Mubarak
4. Sufyan
3. Ja'far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma                       

[Ana katakan] Dengan demikian cukup sudah informasi bagi seorang untuk menunjukkan dan mengetahui bahwa hadits ini Tsabit (kokoh) dan telah shah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana perkataan Jumhur para ahli hadits dalam masalah derajat hadits ini.

====================================
DIAGRAM SANAD LAINNYA DARI ABU NU’AIM
====================================
[Ana katakan] Atau apabila masih kurang, pernah Ustadz-ustadz kami menginformasikan atau mengisyaratkan agar melihat sanad-sanad yang lainnya. Al-Hamdu Lillah kami menemukan jalan lainnya sbb :
Riwayat-16
Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy berkata – menceritakan kepada kami Khalid ibnu Mukhlad, menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, menceritakan kepada kami Abul-Hasan ‘Ali ibnu Muhammad ibnu Ahmad Al-‘Asakiriy ‘Asakir beliau menyenangkan orang yang melihat di Baghdad, menceritakan kepada kami Al-Firyabiy (yakni Ja’far ibnu Muhammad), menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah dan ‘Utsman, mereka berdua berkata, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan.
(Abu Nu’aim berkata –) dan memberitakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad (Ath-Thabrani), menceritakan kepada kami ‘Ubaid ibnu Ghannam, menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan.
(Abu Nu’aim berkata –) dan menceritakan kepada kami Abu Muhammad ibnu Hayyan, menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Ma’dan, menceritakan kepada kami Salim ibnu Junaadah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam khuthbahnya, beliau memuji Allah dan menyanjung pada-Nya dan Dia sebagai pemiliknya, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang sanggup menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang sanggup memberinya petunjuk. Sebenar-benar ucapan (hadits) adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah Muhdatsaat (perkara-perkara baru), dan setiap yang Muhdats (baru) adalah Dhalaalah (kesesatan), DAN SETIAP DHALAALAH (kesesatan) BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (kiamat) sebagaimana dua ini.” Dan beliau ketika menyebutkan As-Saa’ah tampak memerah kedua pipi atas beliau dan meninggi suara beliau, dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.  Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”
(Abu Nu’aim berkata) Telah meriwayatkan Muslim dari Abu Bakr (ibnu Abi Syaibah), dari Waki’ (Lihat sanad Muslim yang ke-3 – peny.)

R. Abu Nu’aim, Al-Musnad Al-Mustakharaj ‘Ala Shahihil-Imaami Muslim no.1953 (1/557).
----------------------------------
[Ana katakan] Abu Nu’aim [w430H] menurunkan tiga sanad sbb -
Sanad pertama :
11.Abu Nu’aim
10.Khalid ibnu Mukhlad,
9. Sulaiman ibnu Bilal,
8. Abul-Hasan ‘Ali ibnu Muhammad ibnu Ahmad Al-‘Asakiriy
7. Al-Firyabiy (yakni Ja’far ibnu Muhammad)
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah   dan   ‘Utsman
5. Waki’
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

Sanad kedua : 
9. Abu Nu’aim
8. Sulaiman ibnu Ahmad (Ath-Thabrani)
7. ‘Ubaid ibnu Ghannam
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah
5. Waki’                                   
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

Sanad ketiga :
9. Abu Nu’aim
8. Abu Muhammad ibnu Hayyan
7. Abu Bakr ibnu Ma’dan
6. Salim ibnu Junaadah
5. Waki’
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

===========
KESIMPULAN
===========
[Ana katakan] Kesimpulannya, tambahan lafazh – Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar - telah jelas diriwayatkan dari dua jalan yang porosnya ada pada Sufyan Ats-Tsauriy dan Anas ibnu 'Iyadh.

1. Melalui Jalur Sufyan terdapat dua jalan :
- Telah meriwayatkan darinya : Waki’ dan ‘Abdullah ibnul-Mubarak.
- Dan telah meriwayatkan dari Waki’ : Ibnu Abi Syaibah, ‘Utsman, Salim ibnu Junaadah (para perawi Abu Nu’aim) Setingkat dengan Waki’ adalah ‘Abdullah ibnul-Mubarak, telah meriwayatkan darinya Hibban ibnu Musa dan ‘Utbah ibnu ‘Abdillah (perawi Al-Baihaqi dan An-Nasa’iy).

2. Sedangkan jalur Anas hanya satu, dari Al-Husain ibnu 'Isa Al-Bisthamiy.

CATATAN
Perawi Anas ibnu 'Iyadh adalah perawi Bukhari-Muslim, beliau bernama - Abu Dhamrah Anas ibnu 'Iyadh Al-Madiniy Al-Laitsiy.
Lihat Rijaalu Shahih Al-Bukhari no.95 (1/88), oleh Ahmad ibnu Muhammad ibnul-Husain Abu Nashr Al-Bukhari Al-Kalabadziy [323-398H]; Rijaalu Muslim no.91 (1/67), oleh Ahmad ibnu 'Ali ibnu Manjawaih Abu Bakr Al-Ashbahaniy [347-428H].

Perawi Al-Husain ibnu 'Isa Al-Qumasiy Al-Bisthamiy Ath-Thaa'iy Al-Khurasaniy adalah perawi SHADUQ (jujur), sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Raziy dalam Al-Jarh Wat-Ta'dil no.271 (3/60), beliau menulis :
Al-Husain ibnu 'Isa ibnu Hamran Abu 'Ali Al-Busthamiy, dia meriwayatkan dari Abu Dhamrah Anas ibnu 'Iyadh, ibnu Abi Fudaik, Zaid ibnu Al-Hubab dan Abi Usamah. Ayahku telah mendengar (riwayat) darinya. Aku telah mendengar ayahku berkata itu, dan telah ditanya ayahku tentang perawi lalu ayahku berkata, SHADUQ.
Tambahan, dia juga perawi Bukhari-Muslim masing-masing satu sanad/hadits, lihat Rijaalu Shahih Al-Bukhari no.220 (1/173) dan Rijaalu Muslim no.263 (1/137).

[Ana katakan] Allahu Akbar, maka entah dari jalan manakah orang sekaliber Syaikh Abu Ghuddah Ash-Shufiy, yang khabarnya beliau seorang Muhaddits murid dari Al-Kautsari Al-Hanafiy, bisa melemahkan tambahan lafazh di atas, padahal sanad-sanad ini kuat dan saling menguatkan, bahkan orang yang lebih ahli dari beliau, yakni Al-Baihaqi [384-458H], berkata :
Dan telah diriwayatkan kepada kami dalam satu hadits yang telah TSABIT (kokoh) dari Jabir ibnu ‘Abdillah (kemudian menukil hadits yang telah lalu Riwayat-12).

[Ana katakan] Atau mungkin si penterjemah yang salah paham terhadap takhrij Asy-Syaikh, atau penyalin yang tidak amanah atau … (maka lain kali harap dijelaskan alasan antum menolak ke-shahih-an atau pernyataan derajat Hasan para ‘ulama tentang hadits ini). Sekian.
---------------------

CATATAN -
Al-Akh menulis :
Riwayat dari Nasa'i berderajat hasan, dari Ibn Majah berderajat dha'if, dan dari Muslim berderajat Sahih

[Ana katakan] Dan ana sudah periksa sanad Ibnu Majah, Sunan no.45 (1/17), Ibnu Majah meriwayatkan dari dua orang Syaikhnya, matannya tanpa tambahan Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar.
1. Suwaid ibnu Sa’id ibnu Sahl [salah seorang perawi Muslim dan syaikh Muslim, lihat Rijaalu Muslim no.624 (1/290) oleh Abu Bakr Ahmad ibnu ‘Ali ibnu Manjawaih Al-Ashbahaniy [347-428H] dan
2. Ahmad ibnu Tsabit Al-Jahdariy [dipuji oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqaat no.12165 (8/42)] sedangkan mereka berdua meriwayatkan dari ‘Abdul-wahhab Ats-Tsaqafiy [perawi Bukhari-Muslim], meriwayatkan dari Ja’far [perawi Bukhari dan Muslim], dari ayahnya dari Ja’far.

[Ana heran] Lalu dari mana antum (penulis) meletakkan derajat ke-dha’if-annya? Antum berdusta atau antum tertipu oleh pendusta? Hendaklah kita berhati-hati dalam menilai derajat hadits kalau pun menyalin jelaskan dari siapa dan di kitab mana, kemudian apa alasannya menolak hadits itu. Dan jangan kita sekali-kali memasuki tempat yang bukan tempat kita (menentukan derajat hadits) kalau kita bukan ahlinya. Wallahu a’lam.

Nyanyian dan Musik dalam Pandangan Islam

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna sehingga dia menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.” (QS. Luqman: 6)
Abdullah bin Mas’ud berkata menafsirkan ‘perkataan yang tidak berguna’,  “Dia -demi Allah- adalah nyanyian.”Dalam riwayat lain beliau berkata,  “Itu adalah nyanyian, demin yang tidak ada sembahan yang berhak selain-Nya,” beliau mengulanginya sebanyak 3 kali.
Ini juga merupakan penafsiran dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdillah dari kalangan sahabat. Dan dari kalangan tabi’in: Ikrimah, Said bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, Al-Hasan Al-Bashri, dan selainnya. (Lihat selengkapnya dalam Tafsir Ibnu Katsir: 3/460)
Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعازِفَ
“Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, kain sutra (bagi lelaki), khamar, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari no. 5590)
Kalimat ‘akan menghalalkan’ menunjukkan bahwa keempat hal ini asalnya adalah haram, lalu mereka menghalalkannya.
Lihat pembahasan lengkap mengenai keshahihan hadits ini serta sanggahan bagi mereka yang menyatakannya sebagai hadits yang lemah, di dalam kitab Fath Al-Bari: 10/52 karya Al-Hafizh dan kitab Tahrim Alat Ath-Tharb karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.
Penjelasan ringkas:
Benarkah Musik,Lagu,Nyanyian itu Haram? [Hukum Musik]
Nyanyian secara mutlak adalah hal yang diharamkan, baik disertai dengan musik maupun tanpa alat musik, baik liriknya berbau maksiat maupun yang sifatnya religi (nasyid).
Hal itu karena dalil-dalil di atas bersifat umum dan tidak ada satupun dalil yang mengecualikan nasyid atau nyanyian tanpa musik.
Jadi nyanyian dan musik ini adalah dua hal yang mempunyai hukum tersendiri.
Surah Luqman di atas mengharamkan nyanyian, sementara hadits di atas mengharamkan alat musik. Jadi sebagaimana musik tanpa nyanyian itu haram, maka demikian pula nyanyian tanpa musik juga haram, karena keduanya mempunyai dalil tersendiri yang mengharamkannya.
Sebagai pelengkap, berikut kami membawakan beberapa ucapan dari keempat mazhab mengenai haramnya musik dan nyanyian:
A.    Al-Hanafiah.
Abu Hanifah rahimahullah berkata,
“Nyanyian itu adalah haram dalam semua agama.” (Ruh Al-Ma’ani: 21/67 karya Al-Alusi)
Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari berkata,
“Abu Hanifah membenci nyanyian dan menghukumi perbuatan mendengar nyanyian adalah dosa.” (Talbis Iblis hal. 282 karya Ibnu Al-Jauzi)
B.    Al-Malikiah
Ishaq bin Isa Ath-Thabba’ berkata,
“Aku bertanya kepada Malik bin Anas mengenai nyanyian yang dilakukan oleh sebagian penduduk Madinah. Maka beliau menjawab,
“Tidak ada yang melakukukan hal itu (menyanyi) di negeri kami ini kecuali orang-orang yang fasik.” (Riwayat Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar hal. 142, Ibnu Al-Jauzi dalam Talbis Iblis hal. 282, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 98)
Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari berkata,
“Adapun Malik bin Anas, maka beliau telah melarang dari menyanyi dan mendengarkan nyanyian. Dan ini adalah mazhab semua penduduk Madinah.” (Talbis Iblis hal. 282)
C.    Asy-Syafi’iyah.
Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
“Aku mendapati di Iraq sesuatu yang bernama taghbir, yang dimunculkan oleh orang-orang zindiq guna menghalangi orang-orang dari membaca AL-Qur`an.” (Riwayat Abu Nuaim dalam Al-Hilyah: 9/146 dan Ibnu Al-Jauzi dalam Talbis Iblis hal. 283 dengan sanad yang shahih)
Taghbir adalah kumpulan bait syair yang berisi anjuran untuk zuhud terhadap dunia, yang dilantunkan oleh seorang penyanyi sementara yang hadir memukul rebana mengiringinya.
Kami katakan:
Kalau lirik taghbir ini seperti itu (anjuran zuhur terhadap dunia) dan hanya diiringi dengan satu alat musik sederhana, tapi tetap saja dibenci oleh Imam Asy-Syafi’i, maka bagaimana lagi kira-kira jika beliau melihat nasyid yang ada sekarang, apalagi jika melihat nyanyian non religi sekarang?!
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah berkata mengomentari ucapan Asy-Syafi’i di atas,
“Apa yang disebutkan oleh Asy-Syafi’i bahwa taghbir ini dimunculkan oleh orang-orang zindiq adalah ucapan dari seorang imam yang mengetahui betul tentang landasan-landasan Islam. Karena mendengar taghbir ini, pada dasarnya tidak ada yang senang dan tidak ada yang mengajak untuk mendengarnya kecuali orang yang tertuduh sebagai zindiq.” (Majmu’ Al-Fatawa: 11/507)
Ibnu Al-Jauzi berkata,
“Murid-murid senior Asy-Syafi’i radhiallahu anhum mengingkari perbuatan mendengar (nyanyian).” (Talbis Iblis hal. 283)
Ibnu Al-Qayyim juga berkata dalam Ighatsah Al-Luhfan hal. 350,
“Asy-Syafi’i dan murid-murid seniornya serta orang-orang yang mengetahui mazhabnya, termasuk dari ulama yang paling keras ibaratnya dalam hal ini (pengharaman nyanyian).”
Karenanya Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Talbi Iblis hal. 283,
“Maka inilah ucapan para ulama Syafi’iyah dan orang-orang yang baik agamanya di antara mereka (yakni pengharaman nyanyian). Tidak ada yang memberikan keringanan mendengarkan musik kecuali orang-orang belakangan dalam mazhabnya, mereka yang minim ilmunya dan telah dikuasai oleh hawa nafsunya.”
D.    Al-Hanabilah
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,
“Aku bertanya kepada ayahku tentang nyanyian, maka beliau menjawab, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, saya tidak menyukainya.” (Riwayat Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf hal. 142)
Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Talbis Iblis hal. 284,
“Adapun nyanyian yang ada di zaman ini, maka terlarang di sisi beliau (Imam Ahmad), maka bagaimana lagi jika beliau mengetahui tambahan-tambahan yang dilakukan orang-orang di zaman ini.”
Kami katakan: Itu di zaman Ibnu Al-Jauzi, maka bagaimana lagi jika Ibnu Al-Jauzi dan Imam Ahmad mengetahui bentuk alat musik dan lirik nyanyian di zaman modern seperti ini?!
Kesimpulannya:
Ibnu Taimiah rahimahullah berkata,
“Imam Empat, mereka telah bersepakat mengharamkan alat-alat musik yang merupakan alat-alat permainan yang tidak berguna.” (Minhaj As-Sunnah: 3/439)
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata,
“Hendaknya diketahui bahwa jika rebana, penyanyi wanita, dan nyanyian sudah berkumpul maka mendengarnya adalah haram menurut semua imam mazhab dan selain mereka dari para ulama kaum muslimin.” (Ighatsah Al-Luhfan: 1/350)
Al-Albani rahimahullah berkata dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 105 berkata,
“Para ulama dan fuqaha -dan di antara mereka ada Imam Empat- telah bersepakat mengharamkan alat-alat musik, guna mengikuti hadits-hadits nabawiah dan atsar-atsar dari para ulama salaf.”
sumber:http://al-atsariyyah.com/haramnya-nyanyian-dan-alat-musik.html

Beberapa Perkara Pembatal Amal

Sesungguhnya kebahagiaan abadi adalah di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang tidak akan didapatkan oleh seorang hamba kecuali dengan menjauhi perangi yang dianggap baik oleh sebuah jiwa akan tetapi akan menggugurkan pahala dan amalannya.
Akan tetapi wahai hamba Allah, engkau berada di atas suatu ilmu yang terkumpul untuk mu di lembaran ini yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan As-Sunnah sahihah :
1. Kufur dan syirik
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan perjumpaan di hari akhirat, maka gugurlah amalan-amalan mereka, dan tidaklah mereka diberi balasan kecuali dengan apa yang telah mereka perbuat (al A'raf:174) dan juga firman-Nya " dan telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, jika kamu berbuat syirik, niscaya gugurlah amalan-amalanmu dan tentulah kamu menjadi orang yang merugi " (az Zumar: 65)
2. Murtad
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : " Barangsiapa yang murtad diantara kalian dari agamanya kemudian mati dakan keadaan kafir, mereka itulah yang gugur amalan-amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka adalah penghuni neraka serta kekal di dalamnya." (Al Baqarah : 217)
3. Nifaq dan Riya'
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam" sesungguhnya dari yang saya takutkan terhadapmu adalah syirik kecil, yaitu riya". Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (dalam sebuah hadits qudsi) pada hari kiamat, "Jika Allah memberi balasan kepada manusia dari amalan-amalan. Maka pergilah kalian kepada amalan yang kamu berbuat ria di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan padanya pahala" (dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan al Baghawi dari hadits Mahmud bin Labid dengan sanad shahih menurut syarat Imam Muslim)
4. Mengungkit-ngungkit pemberian
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala " Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian gugurkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebut (pemberian) dan menyakiti (hati penerima) (Al Baqarah : 264).
Dan dari Abu Umamah Radiyallahu 'anhu berkata Nabi shalallahu 'alahi wasallam bersabda: " Tiga perkara yang Allah tidak akan terima penolakan dan penebusan yaitu orng yang durhaka kepada orang tua, pengungkit-ngungkit pemberian dan orang yang mendustakan takdir (dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Thabrany dengan sanad hasan)
5. Mendustakan Takdir
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam "Kalau seandainya Allah mengadzab penduduk langit dan bumi niscaya dia akan mengadzabnya sedang Dia tidak sedikitpun berbuat dzalim terhadap mereka, dan seandainya Dia merahmati mereka niscaya rahmat-Nya lebih baik dari amalan-amalan mereka. Seandainya seseorang menginfaqkan emas di jalan Allah sebesar Gunung Uhud, tidaklah Allah akan menerima infaq tersebut darimu sampai engkau beriman dengan takdir, dan ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan menyelisihimu, sedang apa yang (ditakdirkan) tidak menimpamu maka tida akan menimpamu, kalau seandainya engkau mati dalam keadaab mengimanai selalin ini (tidak beriman dengan takdir), niscaya engkau masuk neraka (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dan Ahmad, hadits ini shahih)
6. Meninggalkan shalat Ashr
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : "Orang yang meluputkan dari shalat ashar maka seolah-olah dia kehilangan keluarga dan hartanya (yakni tinggal sendirian tanpa harta dan keluarga), (Dari hadits Ibnu Umar, mutafaq 'alaihi), dan juga sabda beliau "Barangsiapa meninggalkan shalat ashr maka sungguh gugurlah amalannya (Bukhari dari hadits Buraidah)
7. At Ta'ly atas Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Sesungguhnya seseorang yang berkata, Allah tidak akan mengampuni terhadap si fulan, maka Allah berkata, Barangsiapa beranggapan atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, maka sungguh Aku telah mengampuni si fulan, dan engkau telah menggugurkan amalanmu, atau sebagaimana beliau katakan (dikelurkan oleh Muslim dari hadtis Jundub bin Abdullah Radhiyallu anhu) At Ta'ly atas Allah yaitu : berkata tentang Allah tanpa ilmu, menyepelekan luasnya rahmat Allah dan bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni terhadap seseorang.
8. Menyelisihi Rasul shalallahu 'alaihi wasallam -baik ucapan maupun amalan
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : " Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian angkat suara-suaramu diatas suara Nabi dan jangan kalian mengeraskan suara kepadanya layaknya seorang diantara kalian terhadap yang lainnya, sehingga akan gugurlah amalan-amalan kalian dalam keadaan kalian tidak menyadari" (Al Ahzab : 2). Dan firman-Nya : " Hai orang-orang beriman taatlah Allah dan Rasul-Nya dan jangan kalian gugurkan amalan-amalan kalian (Muhammad: 33)
9. Berbuat bid'ah dalam agama
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan kami ini, sesuatu yang tidak ada petunjuk agama padanya, maka itu tertolak (Mutafaq 'alaih dari hadtis Aisyah radhiyallahu 'anha) dalam riwayat Muslim disebutkan " Barangsiapa beramal dengan amalan yang bukan perintah kami maka itu tertolak "
10. Melanggar Ketentuan-ketentuan Allah di waktu sepi
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan semisal gunung putih, kemudian Allah jadikan seperti halnya debu yang berterbangan", berkata Tsauban, " Wahai Rasulullah, sifatkanlah tentang keadaan mereka kepada kami, dan supaya kami tidak termasuk dari mereka, dan sedang kami da;a, keadaan tidak memengetahui", Beliau bersabda "Adapun mereka itu dari saudara kalian seagama, dan dari bangsa kalian, mereka mengambil bagian dari waktu malam sebagaimana juga kalian mengambilnya, akan tetapi mereka itu adalah sebuah kaum yang jika melewati larangan Allah mereka melanggarnya (Dikeluarkan oleh ibnu MAjah dari hadits Tsauban Radhiyallahu 'anhu dan dishahihkan oleh al Mundziri dan Al Baushiri)
11. Gembira dan Bahagia dengan terbunuhnya seorang mukmin
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barangsiapa membunuh seorang mukmin dan berharap akan terbunuhnya maka Allah tidak akan menerima darinya penolakan (adzab) ataupun penebusan. (dikelurkan oleh Abu Dawud dari hadits Ubadah bin shamit, hadits ini shahih).
12. Menetap di negeri-negeri kafir
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : " Allah Azza wajalla tidak akan menerima amalan dari seorang musyrik yang masuk Islam sampai memisahkan musyrikin kepada muslimin" (Dikelurkan oleh Nasai dan Ahmad dari Hadits Mu'awiya bin Hayidah radhiyallahu 'anhu dengan sanad hasan)
13. Mendatangi dukun dan tukang ramal
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : " Barangsiapa mendatangi tukang ramal kemudian menanyakan tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama 40 hari (dikeluarkan oleh Muslim) dan sabdanya " Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakan maka sungguh telah kafir kepada yang diturukan kepada Muhammad (Al Qur'an), (dikelurkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, dari hadits Abu Hurairah, sahih)
14. Durhaka kepada kedua orang tua
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Tiga golongan yang Allah tidak akan terima dari mereka penolakan atau penebusan yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, pengungkit pemberian, dan pendusta takdir" (telah berlalu takhrijnya dipoint no.5)
15. Pecandu Khamar
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barangsiapa meminum khamar Allah tidak akan terima darinya shalat empat puluh hari, apabila dia taubat, maka Allah terima taubatnya, apabila dia kembali berbuat maka Allah tidak akan terima lagi shalatnya selama 40 hari, dan apabila dia taubat maka Allah tidak akan terima taubatnya, dan Allah akan memberinya minum dari sungai Khibal", dikatakan kepadanya "wahai Abu Abdiraman , apa sungai khibal tersebut, dia berkata : yaitu sungai dari nanah penduduk neraka (dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Umar, dan dia shahih), dan sabda Beliau Shalallahu Alaihi Wa Sallam "Pecandu khamr, jika mati maka akan menemui Allah seperti penyembah berhala (dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Abbas, dan baginya ada syahid (penguat) dari hadits Abu Hurairah dikeluarkan oleh Ibnu Majah, secara keseluruhannya derajatnya hasan)
Berkata Ibnu Hiban : Serupa makna khabar ini dengan " Barangsiapa bertemu Allah dari pecandu khamr dengan anggapan halal meminumnya, seperti penyembah berhala, karena kesamaan keduanya dalam kekufuran.
16. Berkata dusta dan beramal dengannya
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada kepentingan bagi Allah seseorang meninggalkan makan dan minumnya " (dikeluarkan oleh Bukhari)
17. Memelihara anjing kecuali anjing yang dididik untuk pertanian atau berburu
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barangsiapa memelihara anjing, maka akan berkurang amalannya setiap hari sebear satu qiroth (dalam riwayat lain dua qiroth), kecuali anjing untuk menjaga kebun atau anjing penjaga ternak (mutafaq alaihi, dan riwayat kedua dari muslim)
18. Budak yang lari dari tuannya, tanpa karena takut atau keletihan dalam pekerjaan, sampai dia kembali kepada tuannya
19. Istri yang durhaka sampai kembali taat terhadap suaminya.
Berkata Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Dua golongan yang sungguh sangat merugi yaitu seorang hamba yang lari dari tuannya sampai kembali kepada mereka dan seorang istri yang maksiat terhadap suaminya sampai dia kembali kepadanya (dikeluarkan oleh Hakim dan Thabrany dalam as shaghir, shahih)
20. Pemimpin yang dibenci kaumnya
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Tiga golongan yang sangat merugi yaitu seorang budak yang lari dari tuannya sampai dia kembali, seorang wanita yang bermalam dengan suaminya dalam keadaan (suami) murka padanya, dan seorang pemimpin yang dibenci kaumnya" (Dikeluarkan dan dihasankan oleh Tirmidzi)
Berkata Tirmidzi : " Sekelompok orang dari ahli ilmu membenci seseorang untuk memimpin sebuah kaum, yang mereka benci padanya. Apabila imam itu tidak dzalim, maka sesungguhnya dosa itu atas yang membencinya. Dinukilkan dari Manshur: Kami bertanya tentang perkara imam, maka dikatakan kepada kami: Pemimpin-pemimpin yang dzalim itu sangat menyusahkan, dan adapun yang menegakkan sunnah maka sesungguhnya dosa bagi siapa yang membencinya."
21. Seorang muslim memboikot saudaranya muslim tanpa udzur syar'ie
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Dibukakan pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis dan diampunkan bagi setiap hamba yang tidak mensekutukan Allah dengan sesuatupun kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya ada kebencian" Beliau berkata, " perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun." (Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah)
Wahai saudara seislam, ini adalah perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan amalan-amalan, berada di depanmu. Dan bahayanya terhadap agamamu sangat jelas, maka jauhilah perkara tersebut dan berhati-hatilah darinya dan hendaklah hatimu tetap berharap kepada sesuatu yang memberi manfaat kepadamu di dunia dan akhirat, karena setiap hati butuh kepada tarbiyah supaya suci dan terus bertambah suci hingga sampai usia lanjut sempurnalah dan baiklah ia.
Ya Allah yang membolak-balikan hati tetapkanlah hati-hati kami atas agama-Mu, dan janganlah Engkau palingkan kami meskipun hanya sekejap saja.
Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali

Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Ada polemik yang dirasakan sebagian manusia, yaitu bagaimana Allah akan menyiksa karena ma'shiyat, padahal telah Dia takdirkan hal itu atas manusia ?"
 

Jawaban.
Sebenarnya hal ini bukanlah polemik. Langkah manusia untuk berbuat jahat kemudian dia disiksa karenanya bukanlah persoalan yang sulit. Karena langkah manusia pada berbuat jahat adalah langkah yang sesuai dengan pilihannya sendiri dan tidak ada seorangpun yang mengacungkan pedang di depannya dan mengatakan : "Lakukanlah perbuatan munkar itu", akan tetapi dia melakukannya atas pilihannya sendiri. Allah telah berfirman.
"Artinya : Sesungguhnya Aku telah memberi petunjuk kepadanya pada jalan (yang benar), maka adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur" [Al-Insan : 3]
 

Maka baik kepada mereka yang bersyukur maupun yang kufur, Allah telah menunjukkan dan menjelaskan tentang jalan (yang benar). Akan tetapi sebagian manusia ada yang memilih jalan tersebut dan sebagian lagi ada yang tidak memilihnya. Penjelasan (Allah) tersebut pertama dengan Ilzam (keharusan/kepastian logis) dan kedua dengan Bayan (penjelasan).
 

Dalam hal Ilzam, maka kita dapat mengatakan kepada seseorang : Amal duniawi dan amal ukhrawimu sebenarnya sama dan seharusnya anda memperlakukan keduanya secara sama. Sebagai hal yang maklum adalah apabila ditawarkan kepadamu dua pekerjaan duaniawi yang telah direncanakan. Yang pertama kamu yakini mengandung kabaikan untuk dirimu dan yang kedua merugikan dirimu. Maka pastilah anda akan memilih pekerjaan pertama yang merupakan pekerjaan terbaik dari dua rencana di atas dan tidak mungkin anda memilih pekerjaan kedua, yang merupakan pilihan terburuk lalu anda mengatakan : "Qadar (Allah) telah menetapkan saya padanya (piliha kedua). 

Dengan demikian, apa yang telah anda tetapkan dalam menempuh jalan dunia semestinya anda lakukan dalam menempuh jalan ukhrawi. Kita dapat mengatakan : Allah telah menawarkan di hadapanmu dua amal akhirat, yaitu amal buruk yang berupa amal-amal yang menyalahi syara' dan amal shalih yang berupa amal-amal yang sesuai dengan syara'. Maka apabila dalam berbagai pekerjaan duniawi anda memilih perbuatan yang baik, mengapa anda tidak memilih amal baik dalam amal akhirat. Karena itu, seharusnya anda memilih amal baik di dalam mencari akhirat sebagaimana anda harus memilih pekerjaan baik dalam mencari dunia. Inilah cara Ilzam.
 

Adapun cara Bayan, maka kita dapat mengatakan bahwa kita semua tidak tahu apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kita. Allah berfirman. "Artinya : Setiap diri tidak mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok" [Luqman : 34]
 

Maka ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, berarti dia melakukannya atas pilihannya sendiri dan bukan karena mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. Oleh karena itu, sebagian ulama' mengatakan : "Sesungguhnya Qadar itu rahasia yang tertutup". Dan kita semua tidak pernah mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan begitu, kecuali bila perbuatan tersebut telah terjadi. Dengan demikian, ketika kita melakukan sesuatu perbuatan, maka bukan berarti kita melakukannya atas dasar bahwa perbuatan tersebut telah ditetapkan bagi kita. Akan tetapi kita melakukannya berdasarkan pilihan kita sendiri dan ketika telah terjadi maka kita baru tahu bahwa Allah telah mentakdirkannya untuk kita.
 

Oleh karena itu, manusia tidak bisa beralasan dengan takdir kecuali setelah terjadinya perbuatan tersebut. Disebutkan dari Amirul Mu'minin, Umar bin Kahtthab, sebuah kisah (mungkin benar dari beliau mungkin tidak) bahwa seorang pencuri yang telah memenuhi syarat potong tangan dilaporkan kepada beliau. Ketika Umar menyuruh untuk memotong tangannya, dia mengatakan : "Tunggu dulu hai Amirul Mu'minin, demi Allah aku tidak mencuri itu kecuali karena Qadar Allah". Umar mengatakan : "Aku tidak akan memotong tanganmu kecuali karena Qadar Allah". Maka Umar berargumentasi dengan argumentasi yang digunakan pencuri tersebut tentang kasus pencurian terhadap harta orang-orang Islam. Padahal Umar bisa berargumentasi dengan Qadar dan Syari'at, karena beliau diperintahkan untuk memotong tangannya. Adapun dalam kasus tersebut, beliau berargumentasi dengan Qadar karena argumentasi tersebut lebih tepat mengenai sasaran.
 

Berdasarkan hal itu, maka seseorang tidak lagi berargumentasi dengan Qadar untuk berbuat ma'shiyat kepada Allah dan dalam kenyataannya dia memang tidak punya alasan dalam hal di atas. Allah berfirman.
"Artinya : (Aku telah mengutus) para rasul yang membawa berita gembira dan memberi peringatan agar manusia tidak punya alasan/argumentasi kepada Allah setelah adanya para rasul" [An-Nisa : 165]

 

Sementara semua amal manusia, setelah datangnya para rasul, tetap terjadi atas Qadar Allah. Walaupun Qadar bisa dijadikan argumentasi akan tetapi selalu bersama-sama dengan terutusnya para rasul selamanya. Dengan demikian jelas bahwa tidak layak berbuat ma'shiyat dengan alasan Qadha' dan Qadar Allah, karena dia tidak dipaksa untuk melakukannya.
Semoga Allah memberi Taufiq.


[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Memahami Kebersamaan Allah dengan makhlukNya

Dalam memahami ayat-ayat tentang dekatnya Allah dengan makhluk-Nya, seringkali terjadi kesalahan pada kaum muslimin. Kebanyakan mereka mengira bahwa ayat-ayat tersebut bertentangan dengan dalil-dalil ‘uluw (tinggi)nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. 

Seperti ayat-ayat yang menyatakan kebersamaan Allah سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya sebagai berikut: ...وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ....]الحديد:4[ …Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada... (al-Hadiid: 4) Juga ayat yang menyatakan dekatnya Allah dengan makhluk-Nya. Diantaranya Allah سبحانه وتعالى berfirman: ...وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ]ق: 16[ … dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Qaaf: 16) Ayat-ayat yang menyatakan Allah sebagai ilah di bumi. 

Seperti Ucapan Allah سبحانه وتعالى: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي اْلأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. ]الزخرف: 84[ Dan Dialah ilah di langit dan ilah di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (az-Zukhruf: 84) Ayat-ayat yang tersebut di atas dan yang semakna dengannya seringkali menyebabkan sebagian kaum muslimin keliru dalam memahaminya. 

Sebagian diantara mereka menyatakan “Allah ada di mana-mana”, “Allah di hati” atau “Allah menyatu dengan makhluk-Nya”, seperti ucapan Jahm bin Sofwan -pencetus aliran Jahmiyah:”Allah di segala sesuatu, bersama setiap sesuatu”. Hingga akhirnya mereka menentang sekian banyak ayat dan hadits yang menyatakan tingginya Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Bantahan dan penjelasannya 

A. Kebersamaan (Ma'iyyah) Allah Secara bahasa makna ma’iyyah (kebersamaan) tidak mesti bermakna bersatu dalam satu tempat, tetapi bermakna kebersamaan secara mutlak, apakah bersama-sama dalam satu amalan yang sama di tempat yang berbeda atau bersama dalam artian mengawasi atau memperhatikan dan lain-lain. Maka ma’iyyah Allah harus ditafsirkan sesuai dengan dlahir ayatnya masing-masing. (Lihat ucapan Syaikh Utsaimin dalam Qawa’idul Mutsla hal. 103). 

Maka ayat-ayat tentang tentang kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, sama sekali tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang menyatakan tingginya Dzat Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Hal itu karena bagi Allah semuanya dekat, karena Allah Maha Besar, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, bahkan mengetahui bisikan-bisikan yang masih ada dalam dada. Kalau kita perhatikan lebih lanjut ayat-ayat di atas secara lengkap, akan terlihat kalau ayat-ayat tersebut berbicara tentang ilmu, pendengaran, penglihatan, atau dukungan dan pembelaan Allah سبحانه وتعالى. 

Diantaranya: 1. Kebersamaan dengan ilmu-Nya Seperti Ucapan Allah

 سبحانه وتعالى: هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. ]الحديد: 4[ 

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa di atas 'arsy. Dia Maha Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (al-Hadiid: 4) Imam Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya tentang ayat di atas, maka beliau menjawab: “Dia bersama kalian yakni dengan ilmunya” (diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang Hasan dalam kitab Asma’ wa sifat, hal. 341) 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Dlahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah yang sesuai dengan konteksnya adalah memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian. Inilah maksud perkataan salaf: ‘Bersama mereka dengan ilmu-Nya’. Dan ini adalah dlahir ayat dan hakikatnya (bukan ta’wil –pent.) (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juz V hal. 103) 

Faedah lain dalam ayat ini adalah tidak adanya pertentangan antara tinggi (‘uluw)nya Allah di atas ‘Arsy dan kebersamaan (ma’iyyah)-Nya dengan makhluk-Nya, karena dalam ayat ini kedua-duanya disebutkan bersama-sama. Berkata Ibnul Qayyim: “Dalam ayat ini Allah menghabarkan bahwa diri-Nya tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan sekaligus menyatakan bersama makhluk-Nya, melihat dan memperhatikan amalan mereka dari atas ‘Arsy-Nya. Seperti dalam hadits: (“Allah di atas ‘Arsy-Nya melihat apa yang kalian kerjakan”). Maka ‘uluw-Nya Allah tidak bertentangan dengan ma’iyyahnya; dan maiyahnya tidak membatalkan ‘uluwnya. Kedua-duanya adalah benar”. (Mukhtashar Shawa’iq al-Mursalah, hal. 410). 

Demikian pula ayat berikut menunjukkan ilmu Allah: 
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرَ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا... ]المجادلة: 7[ 
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. 

Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (al-Mujadalah: 7) 

2. Kebersamaan dengan makna mendengar dan melihat 
Seperti dalam firman-Nya: قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى. ]طه: 46[ Allah berfirman:"Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (Thaha: 46) Demikian pula ayat Allah: قَالَ كَلاَّ فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُون ]الشعراء: 15[ Allah berfirman: "Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Kami bersama kalian mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan). (asy-Syuara: 15) 3. Kebersamaan dengan makna dukungan dan pembelaan Allah سبحانه وتعالى 
berfirman:
 فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ. ]محمد: 35[ 
Janganlah kalian lemah dan minta damai padahal kalianlah yang di atas dan Allah pun bersama kalian. Dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amal kalian. (Muhammad: 35). Dan juga ayat Allah:
 إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلاَئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ اْلأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ. ]الأنفال: 12[ 
(Ingatlah), ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kalian. Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir. Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.… (al-Anfaal: 12) 

B. Kedekatan Allah Demikian pula dengan ayat-ayat yang menunjukkan kedekatan Allah dengan makhluk-Nya, bermakna dekat dengan ilmunya, mendengarkan doa dan mengabulkannya atau bermakna malaikat-malaikat yang diperintahkan-Nya. Dengan tidak menafikan dekatnya Allah secara Dzat-Nya. Walaupun kita meyakini tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya, tetapi bagi Allah semuanya dekat, karena besarnya Dzat Allah. Dunia dan seisinya serta langit di sisi-Nya tidak lebih seperti biji khardalah (partikel terkecil). Tentu saja secara Dzat-Nya Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. 

1. Dekat dengan makna Maha Mengetahui, Maha Mendengar do’a dan mengabulkan
 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ. ]البقرة: 186[
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al-Baqarah: 186) 
Dan firman-Nya: 
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ. ]هود: 61[ 
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu ilah selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Rabb-ku amat dekat lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)." (Huud: 61) 

2.Dekat dengan makna para malaikat yang diperintahkan-Nya Seperti firman-Nya
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ]ق: 16[ 
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf: 16) 

Syaikh Utsaimin menyatakan bahwa makna dekat pada kalimat di atas adalah dengan para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ini berkaitan dengan ayat selanjutnya: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ. ]ق: 18[ Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf: 18) (Lihat Qawaidul Mutsla, Syaikh Utsaimin) 

Demikian pula dalam firman-Nya: وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لاَ تُبْصِرُونَ. ]الواقعة: 85[ Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (al-Waqiaah:85) Makna kedekatan dalam ayat ini adalah berkaitan dengan kematian ketika mendatangi seseorang. Maka yang dimaksud adalah para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ayat sebelumnya membahas tentang kematian, yang tentunya Allah memerintahkan kepada malaikat pencabut nyawa. Jadi, yang dimaksud dekat di sini adalah malaikat yang diperintahkan-Nya. 

Dan sering dalam al-Qur'an disebutkan apa yang dilakukan oleh para malaikat dengan kami karena mereka melakukan semua apa yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Maka Allah nisbatkan apa yang mereka lakukan kepada diri-Nya. (Lihat Qawaidul Mutsla, Syaikh Utsaimin, hal. 120) 

C. Allah sebagai ilah di bumi Adapun ayat-ayat yang menyatakan Allah sebagai ilah di bumi maka bermakna diibadahi di langit dan di bumi. 

Seperti ayat Allah سبحانه وتعالى: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي اْلأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. ]الزخرف: 84[ Dan Dialah ilah di langit dan ilah di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (az-Zukhruf: 84) Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih, bahwa Qatadah berkata tentang ayat ini: Dialah yang diibadahi di langit dan di bumi. Adapun ayat lainnya dalam surat al-Anaam: 
3: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي اْلأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ. ]الأنعام: 3[ 
Dan Dialah Allah di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan; dan mengetahui apa yang kalian usahakan. (al-Anaam: 3) 

Sebagian para ulama membacanya dengan waqaf (berhenti) pada kalimat fis samaawati, sehingga bermakna Dialah Allah yang di langit. Kemudian memulai membaca dari fil ardli yalamu sirrakum… sehingga bermakna Dan Dia di bumi maha Mengetahui apa yang kamu usahakan. Sedangkan sebagian yang lain membacanya dengan waqaf pada kalimat fil ardli, sehingga bermakna Dialah Allah di langit dan di bumi. 

Maka dengan bacaan kedua ini kita katakan seperti pada ayat di atas, bahwa Allah adalah sesembahan yang diibadahi oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan Dzat Allah menyatu dengan makhluk atau berada di bumi bersama makhluk-Nya. Wallahu alam 

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, Edisi: 51/Th. II, 16 Muharram 1426 H/25 Februari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Kebersamaan Allah Tidak Bertentangan dengan Ketinggian-Nya". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jumat. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiyaus Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)

Bagaimana Amal Perbuatan Itu Ditimbang

Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Bagaimana amal perbuatan itu ditimbang sedangkan ia adalah sekedar sifat bagi yang melakukan amalan tersebut ? 

Jawaban. Kaedah dalam menghadapi masalah semacam ini adalah - - sebagaimana telah kita kemukakan juga di atas- - kita pasrah dan menerima apa adanya saja. Kita tidak perlu menanyakan bagaimana dan mengapa. 

Namun ada juga ada ulama –Rahimahullah- yang berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan diatas. Mereka mengatakan bahwa amal perbuatan tersebut itu dirubah menjadi suatu bentuk sehingga ia memiliki jism lalu ditaruh dalam timbangan sehingga dapat diketahui berat atau ringannya amal tersebut. 

Mereka mengambil contoh dari hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Pada hari kiamat kematian itu dijadikan dalam bentuk kibas (domba), kemudian memanggil penghuni jannah, “Wahai penghuni jannah!” Lalu merekapun muncul dan menjulurkan lehernya untuk melihat. Kemudian ia memanggil. ‘Wahai penghuni naar !” Lalu merekapun muncul dan menjulurkan lehernya untuk melihat. “Apa yang terjadi ?” Lalu kematian itu didatangkan dalam bentuk domba, lalu ditanyakan, “Apakah kalian tahu ini ?” Mereka menjawab “Ya”. Kematian itu akhirnya disembelih antara jannah dan naar, lalu dikatakan, “Wahai penghuni jannahm kekallah dan tiada kematian. Dan wahai penghuni naar, kekallah dan tiada kematian!”. 

Kita semua tahu bahwa kematian merupakan sifat, akan tetapi Allah menjadikannya sebagai suatu bentuk yang berdiri sendiri. Demikian jugalah amal perbuatan itu menjadi suatu bentuk lalu ditimbang. Wallahu ‘alam. 

[Disalin dari buku Fatawa ‘Anil Iman wa Arkanihi edisi Indonesia Soal Jawab Masalah Iman Dan Tauhid, At-Tibyan hal 45-46]

 

NETWORKEDBLOGS

MITRA LINK

WIDGEO

    blog-jasri.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

TUKAR LINK

SAHABAT

al-Ilmu Naafi' © 2012 | Template By Jasriman Sukri