Jangan Ciderai ‘Ruh’ Kerudung!

Nama Afrianti sontak melambung. Pertama, pada 22/01/20012 -di Jakarta- mobil yang dikemudikan wanita yang baru pulang dari ‘safari dugem’ itu menabrak 13 orang dan 9 diantaranya meninggal. Kedua, saat diperiksa, dia tampil berkerudung. Artinya, dia memperpanjang daftar wanita yang tiba-tiba kerap berkerudung saat menghadapi masalah hukum.
 

Untuk apa? Apa kira-kira makna kerudung bagi Afriyanti (plus sejumlah wanita lainnya) yang tiba-tiba ska berkerudung? Apa implikasinya bagi (umat) Islam? Pertanyaan itu penting, karena –konon- dikesehariannya mereka diketahui tidak biasa berkerudung.
Sebelum menjawabnya, kita liat kronologis kecelakaan maut Afrianti itu. Dari sejumlah sumber, ada catatan tentang dua hari perjalanan hura-hura –yaitu dugem ke banyak tempat- dari Afrianti bersama tiga temannya. Wanita berusia 29 tahun itu memulainya Sabtu 21/01/2012. Pukul 20.00 dia ke pesta ulang tahun di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Pukul 22.00 Afrianti pindah ke sebuah kafe di Kemang, Jakarta Selatan. Di sini mereka minum minuman keras, termasuk wiski.

Hari berganti. Ahad, 22/01/2012, pukul 02.00 mereka pindah ke sebuah diskotek di Jakarta Barat dan berpatungan membeli dua butir ekstasi. Lalu, sekitar pukul 10.00 mereka beranjak pulang. Pukul 11.00 terjadilah peristiwa mengerikan itu. Mobil yang dikemudikan Afrianti ‘melalap’ belasan orang di sekitar Tugu Tani, Gambir-Jakarta Pusat.

Kecuali cerita di atas, ada baiknya kita tambah contoh-contoh ‘pekerudung dadakan’ yang lain. Lihatlah Dharnawati! Wanita yang telilit kasus suap di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini tiba-tiba suka berjubah lengkap dengan kerudung/jilbab saat ‘berhadapan’ dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal saat tertangkap tangan tidak berpenampilan seperti itu.

Perhatikan Imas Dianasari! Hakim itu ditangkap KPK karena terkait uang suap sebesar Rp 200 juta. Saat diperiksa dia gedung KPK dia juga tampil berkerudung. Bagi yang mengenalnya, penampilan Imas tentu tampak sangat berubah. Pada saat ditangkap penyidik KPK, misalnya, Imas tidak mengenakan kerudung.

Seksamailah Nunun Nurbaeti yang terlibat kasus cek pelawat pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia untuk memenangkan Miranda Swaray Goeltom. Memang, sebelumnya dalam sejumlah kesempatan dia tampil berserudung walau tak sempurna (misalnya, sebagian rambutnya yang di bagian depan masih menyembul). Tapi, kini Nunun selalu berkerudung saat diperiksa KPK.

Cermatilah Melinda Dee yang terjerat kasus penggelapan dana nasabah bank miliaran rupiah. Dia rajin berkerudung sekalipun tak rapi sebagaimana wanita Muslim seharusnya berkerudung.
Bahkan tak hanya berstatus tersangka, yang berstatus saksipun juga memilih berperforma serupa. Lihatlah gaya Yulianis, salah satu saksi dalam kasus suap Wisma Altet SEA Games. Dia berjubah, berjilbab, serta bercadar saat menjadi saksi di persidangan kaus suap itu.

Kisah wanita yang tiba-tiba berkerudung saat ditimpa masalah hukum tak hanya monopoli mereka yang disangka telibat perkar kriminalitas suap-menyuap dan korupsi. Mereka yang bersangkut-paut dengan masalah permesuman, juga tiba-tiba tampak kerap berkerudung didepan publik

Luna Maya dan Cut Tari contohnya. Dalam sejumlah kesempatan –saat menjalani pemeriksaan di kepolisian terkait kasus beredarnya video adengan mesum mereka dengan seorang vokalis sebuah grup musik- keduanya tampak mengenakan kerudung. Penampilan mereka ini tentu tidak seperti biasanya.

Jika contoh-contoh di atas terjadi di Jakarta, maka di Surabaya juga ada. Pada 06/02/2012 di persidangan Pengadilan Negeri Surabaya, Elizabeth Susanti yang telilit kasus penipuan CPNS (Calon Pegawai Negri Sipil) tampil berkerudung. Padahal, sebelumnya diketahui dia tidak biasa seperti itu. “Biar terlihat lebih cantik,” kata dia.

Bagi para ‘pekerudung dadakan’, boleh jadi ada sejumlah makna dan motivasi bagi mereka. Pertama, sebagai bagian dari upaya menutup rasa malu. Dengan cara itu mereka berusaha menyembunyikan identitas. Mungkin saja, ‘strategi’ mereka benar. Sebab, dengan berkerudung, mereka merasa bisa melindungi (setidaknya sebagian) wajah mereka dari sergapan kamera wartawan.

Kedua, bukan tak mungkin mereka tengah berupaya mengambil simapti publik. Mereka beranggapan bahwa rata-rata kita suka terpesona kepada kemasan. “Oh, dia berkerudung, dia muslimah, dia saudra kita”. Maka, si ‘pekerudung dadakan’ berharap pemaafan dari publik. “Maafkan saja, bukankah dia saudara seagama kita? Maafkan saja, bukankah setiap orang berkemungkinan berbuat salah?”

Berikutnya, adakah implikasi bagi (umat) Islam? Para ‘pekerudung dadakan’ itu tak sadar bahwa mereka sedang mengampanyekan secara negatif tentang umat Islam dan terutama tentang wanita Islam.
Mereka –dengan sikapnya itu- bisa dinilai sebagai telah meruntuhkan citra Islam. Sebab, bukankah kerudung adalah bagian dari busana yang paling mudah menjadi indikator kemuslimahan seseorang? Jika di berbagai media cukup sering terliput banyak kasus kriminal yang melibatkan wanita Muslim, maka akan mudah bagi publik untuk menyimpulkan bahwa wanita Islam banyak berprilaku jelek.

Kerudung –aslinya- berguna sebagai pembeda antara wanita Islam yang baik-baik dengan wanita Islam yang tak baik. Islam –lewat QS al-Ahzab (33): 59- meminta muslimah berkerudung “Supaya mereka lebih mudah untuk dikenal”. Tentu saja, maksudnya dikenal sebagai wanita Islam yang baik-baik dn bukan sebagai wanita aksi kirminal.

Jika kini wanita-wanita yang sedang menghadapi masalah hukum lalu rajin berkerudung, maka sungguh itu bisa dikatakan telah merusak citra kerudung sebagai furqan atau pembeda antara wanita Islam yang baik dengan yang tidak baik.

Kerudung itu salah satu simbol bahwa pemakainya adalah wanita yang taat kepada syariat Islam. Maka, janganlah ada sekelompok pelaku kriminal yang bermaksud mengelabui publik dengan menceritakan dirinya sebagai wanita Islam baik-baik dengan cara berkerudung. Mari selamatkan ‘ruh’ kerudung!
                                    M. Anwar Djaenali

{ 1 Comment... Skip ke Box Comments }

BlogS of Hariyanto said...

berharap saja semoga mereka mendapat hidayah ALLAH sehingga bertaubat lalu merekapun ikhlas meng-kerudung-kan diri dan hati-nya semta karena ALLAH...salam

 

NETWORKEDBLOGS

MITRA LINK

WIDGEO

    blog-jasri.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

TUKAR LINK

SAHABAT

al-Ilmu Naafi' © 2012 | Template By Jasriman Sukri