Gimana Donk!!!

Perempuan itu mulia, potensi yang dipunya bukan melulu keindahan fisik semata. cewek punya potensi sebagaimana cowok. cewek baukan hanya punya tubauh saja sebagai model hidup. kalau sekedar kecantikan jasadi yang ditonjolkan, lalu apa bednya dengan onggokan daging yang akan dijual dipasar-pasar? hiiiiiiii..... emang kamu mau disamakan dengan daging si embek.......???

zaman sekarang ini, aurat yang lebih di tonjolkan. kalo gitu kondisinya, lalu apa bedanya dengan zaman flinstone yang hanya memakai sehelai kain penutup alat vital saja? kata era modern, kok pakaiannya kayak kurang kain gitu? katanya emansipasi, tapi kok malah eksploitasi? katanya kebebasan, tapi kok kebablasan?

cewek sebgaimana cowok, punya akal dan juga punya perasaan. bahkan cewek tuh punya rasa malu yang sangat besar dibanding cowok. jangankan umbar aurat, tersingkap sedikit kain yang menutup tubuhnya karena angin misalnya, itu adalah sesuatu yang sudah membuat merah paras mukanya. tapi kenapa  kondisi ini berbeda?

Jomlo VS Pacaran

Jomlo, suatu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini, terutama remaja, why? Karena kosa kata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Jomlo itu suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idiiiiiiih…..nggak laku? Emangnya jualan?

Tapi asli kok, emang banyak banget remaja apalagi remaja putri yang merasa seprti kena kutukan kalo sampe predikat jomlo mereka sandang. Akhirnya, dengan berbagai macam cara, mereka berusaha untuk melepas kutukan itu. Uda nonton film “30 hari mencari cinta?” film itu menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama dalam kondisi jomlo berpetualang untuk mencari jodoh dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan diperlakukan bak ratu dan semu pekerjaan rumah tangga akan dikerjakan oleh yang kalah.

Ternyata predikat jomlo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman, mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status tersebut. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa dipaksa. Bisa kerena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa oleh diri sendiri karena konsep diri yang salah.

Padahal, apa sih yng didapat dari pacaran? Banayk hal yang merugikan yang bisa bikin kamu merana seumuru hidup kalo kamu tetap nekat melakukan ajang baku syahwat ini.

Pilihan untuk pacaran atau jomlo bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian.

Ada beberapa buku yang bagus untuk kalian baca wahai pemuja cinta, seperti IJINKAN AKU MENIKAH TANPA PACARAN, VICTIM OF LOVE, dan masih banyak lagi buku yang semisal. Bagus untuk panduan.

Jangan Takut Berjilbab

Takut? emang uji nyali? ternyata nggak cuma uji nyali aja yang bisa bikin orang takut, berjilbab pun bisa membuat orang takut. mulai dari takut dicemooh, takut nggak bisa bebas beraktifitas, takut gerah, takut sulit dapat pekerjaan, hingga tahut nggak dapat jodoh, walaaaaa!!!

emang seh, ad juga saudara kita yang uda niat, hati sech ingin berjilabab, tapi apa daya nggak boleh ama ortu. dengan alasan kyak anak udiklah, entar sulit dapat pekerjaanlah, lama dapat jodohlah, DLL. ortu punya kuasa untuk melarang anaknya berjilbab, gimana nggak!!! kalo larangan itu disertai ancaman bakal disetop uang spp dan uang saku, bahkan ngggak boleh aktif di tempat kegiatan yang bikin dia sadar tentang wajibnya jilbab. lalu bagaimana donk cara untuk menykinkan otru agar dibolehin pake jilbab?

ANDA PUNYA SOLUSI???

Pengorbanan Mush'ab Untuk Islam

Gagah dan tampan, itulah Mush’ab bin Umair, sebagai anggota keluarga bangsawan, dia tidak pernah hidup kekurangan. Orang tuanya kaya raya, sehingga tidak mengherankan jika ia selalu dimanja.

Tetapi ketika ia menyatakan masuk islam, semuanya berubah 180 derajat. Orang tuanya menentang dan mengingatkan mush’ab untuk kemabli ke agama nenek moyang meraka. Karena Mush’ab tidak mau merubah keyakinannya, maka keluarganya pun mulai membencinya. Bukan Cuma melakukan tindakan yang meluluhkan hati Mush’ab, mereka juga melakukan penyiksaan fisik yang keji. Namun iman Mush’ab tidak dapat digoyangkan dengan penyiksaan.

Puncakanya, Mush’ab pu diusir oleh keluarganya dan dikucilkan. Sejak itu putuskah hubungan antara Mush’ab dengan keluarganya. Sedihkan dia? Tidak, ternyata Mush’ab berprinsip bahwa daripada hidup mewah disangakar emas tapi batinnya trbelenggu, lebih baik hidup menderita tetapi dalam keimanan.

Sejak itu, serangkaian penderitaan dan kesusahan melilit pemuda yang dahulu hidup mewah itu. Demi keimanan, diikutinya Muhammad Rasulullah, orang yang paling dikagumi dan dikasihinya, dngan hijrah ke Habsy (Ethopia) sampai kemudian hijrah ke madinah. Demi keimanan, pengorbanan apapun ia lakukan.

Pemuda yang dulu bergeming kemewahan itu, kini menjadi miskin, namun toh ia merasa bahagia. Ririwayatkan, begitu susahnya perekonomian saat itu, sampai Mush’ab tak mampu membeli pakaian untuk menutup tubahnya. Yang dimiliki Cuma selembar kain pendek bila kepala yang ditutupi, kakinya kelihatan. Bila kaki ditutupi, kepalanya pun yang kelihatan. “Hai Mush’ab, tutupi saja kakimudengan daun zikir,” kata Nabi ketika ikut terharu melihat sahabatnya itu.

Pengorbanan merupakan sendi tegaknya kejayaan islam. Dan itu dilakukan sepenuh hati oleh Mush’ab dalam membela agamanya. Pemuda itu rela menderita apapun karena karena imannya. Dalam perang uhud, ia tampil sebagai prajurit yang gagah berani. Sayangnya, pengorbanan dalam perang itu merupakan pengorbanan Mush’ab yang terakhir. Pemuda itu gugur sebagai seorang syahid. Ketika dimakamkan. Rasulullah sampai menitikan air matasaat menyaksikan keadaan sahabatnya itu.

Ternyata harta kekayaan dan kedudukan bukanlah segalanya dalam hidup ini. Harta kekayaan dan kedudukan tidak selamanya menjamin kedamaian hati dan kebahagiaan. Bahkan seringkali harta kekayaan dan kedudukan menjadi sumber (penyebab) dari segala kegelisahan.

Alangkah meruginya orang-orang yang menghabiskan usianya uantuk mengejar harta kekayaan dan kedudukan, padahal hanyalah titipan dari “Yang Maha Menitipkan,” yang akan diambila-Nya kembali saat telah berakhir masa penitipan. Harta kekayaan dan kedudukan adalah fana, yang semua itu akan segare sirna seiring berputarnya masa.

Bercerminlah pada kisah hidup Mush’ab bin Umair, ia rela meninggalkan gemilang harta kekayaan dan tingginya kedudukan demi sebuah keimanan. Ia rela meninggalkan kehidupannya yang bergemilang kemewahan dunia. Demi sebuah “Kekayaan sejati” di akhirat nanti.

Jangan sekali-kali ia menjual kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia yang murah ini. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harta yang sedikit. Mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat. Dan Allah tidak berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Al-Imron: 77)

Lebih Kaya dari Allah

ALKISAH, pasar baghdad yang merupakn tempat ramai orang berdagang, tiba-tiba menjadi heboh gara-gara celotehan abu nawas. “kawan-kawan, hari ini saya membenci pekara yang haq, tetapi menyenangi yang fitnah. Hari ini saya menjadi orang yang kaya, bisakah lebih kaya dari Allah.
Melalui celotehnya, Abu nawas ingin mengajarkan tiga hal pokok yang harus kita yakini dalam hidup. Kebanyakan manusia itu membenci sesuatu yang haq (benar, pasti terjadi), padahal mereka tidak akan pernah bisa menghindarinya. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi manusia kucuali harus senantiasa mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya perkara yang haq tersebut dengan baik. Bukankah kematian adalah haq, surga dan neraka adalah haq, dan kehidupan akhirat pun haq? Lalu, apa yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya?
Kehidupan dunia dengan segala kemerlapnya tidak lain adalah ujian (fitnah) dariAllah. Orang yang tergoda oleh gemerlap dunia, kemudian ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar kehidupan duniawi, niscaya dialah orang yang akan celaka. Mengapa? Karena dunia dengan segala gemerlapnya hanyalah kemnikmatan yang semu dan menipu. Ia adalah sesuatu yang fana, yang akan segera dalam sekejap mata. Allah berfirman “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah yang memperdayakan.” (QS. Al-Imron: 185) firman-Nya yang lain, “Dan tidaklah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, maka tidaklah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)
Allah itu tunggal, Maha Esa. Dia tidak beranak dan diperanakkan. Karenanya, jika ada orang yang mengatakan bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan, atau menyatakan bahwa ada tuhan lain selain Allah, maka ia terjun dalam perbuatan syirik. Lihat surah al-Ikhlas ayat 1-4.
Mengenai lebih kaya dari Allah, Abu Nawas berkata, “Saya lebih kaya dari Allah, karena saya mempunyai anak, sedang Allah tidak mempunyai anak, sedang Allah tidak beranak dan diperanakkan.”

Kekayaan Hati

Sesunggunya kekayaan bukanlah terletak pada banyknya harta benda yang dapat dikuasai ataupun banyknya uang yang dimiliki. Karena keinginan, ambisi dan nafsu, tidak pernah ada puasnya. Seberapa banyak pun harta benda yang telah dimiki, tetapi jika hati tetap merasa kurang, maka sejatinya ia adalah orang yang miskin.

Karena itu, sesungguhnya kekayaan terletak di dalam hati. Biarpun harta benda atau uang yang dimiliki hanya sekedar cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi jika hati sudah merasa cukup dengan semua itu, niscaya ia adalah orang yang paling kaya di dunia ini. Ya, kuncinya adalah kekanyaan hati.

Firman Allah, “Perumpamaan orang-orang yang menafkahka hartanya di jalan Allah adalah seperti sebuah benih yang menumbuhkan tujuh bulir, tiap-tiap bulir berisi seratus biji, Allah melipat gandakan bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Di dala surah yang lain Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) da bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7).

 

NETWORKEDBLOGS

MITRA LINK

WIDGEO

    blog-jasri.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

TUKAR LINK

SAHABAT

al-Ilmu Naafi' © 2012 | Template By Jasriman Sukri