Kontradiksi Seputar Hadist

Fatwa berikut disalin dari buku "Memahami ayat-ayat dan hadist-hadist kontadiksi", Lajnah Ad-Daimah li Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta', Darul Falah, cetakan pertama. 

Pertanyaan : "Barangsiapa yang membuat sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat". Apakah ini hadist ? Jika ini hadist, apakah Rasulullah pernah meninggalkan sesuatu untuk seseorang hingga dengannya dia membuat sunnah dalam Islam ? Tolong jelaskan masalah ini secara detail. 

Jawaban: Ini adalah hadist shahih dan hadist ini menunjukkan atas disyariatkannya menghidupkan sunnah dan anjuran agar mendakwahkannya serta peringatan agar berhati-hati dari bid'ah dan kejahatan. Karena rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa membuat sunnah yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya sendiri dan pahala orang yang melakukannya sesudahnya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka dan barangsiapa membuat sunnah yang buruk dalam Islam, maka dia akan mendapatkan dosanya sendiri dan dosa orang yang melakukan sesudahnya, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka" (Ditakhrij oleh Muslim dalam Shahih-nya). 

Senada dengan hadist ini, Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda: "Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka dia dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dosa-dosa mereka. Barangsiapa membuat sunnah yang tercela maka dia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka" (Ditakhrij oleh Muslim dalam Shahih-nya). Dalam hadist lain Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda: "Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka dia dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka" 

Begitu juga hadist Abu Mas'ud Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala pelakunya" (Ditakhrij oleh Muslim dalam Shahih-nya). Makna "membuat sunnah dalam Islam" adalah menghidupkan sunnah, menunjukkan dan menampakkannya yang sebelumnya disembunyikan manusia, lalu dia menyeru kepadanya, menampakkannya dan menjelaskannya, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Maknanya bukan membuat bid'ah dalam agama, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dari bid'ah dan berkata, "Setiap bid'ah adalah sesat." Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saling membenarkan antara satu dengan yang lain, tidak bertentangan antara satu dengan yang lain menurut kesepakatan ahlul ilmi. Maka diketahui dari sini bahwa maksud hadist tsb adalah menghidupkan sunnah dan menampakkannya. 

Misalnya, ada seorang alim tinggal di suatu tempat yang tidak ada di dalamnya pengajaran Al-Qur'an atau pengajaran Sunnah Nabi, maka dia menghidupkan sunnah ini dengan mendirikan majelis taklim untuk mengajari manusia Al-Qur'an dan As-Sunnah. Atau dia tinggal di suatu negeri yang penduduknya senang mencukur jenggot, lalu dia menyuruh agar memanjangkan jenggot. Dengan begitu dia telah menghidupkan sunnah di negeri yg sebelumnya tidak mengetahuinya shg dia mendapatkan pahala sperti pahala orang yang mendapatkan petunjuk karenanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Potonglah kumis, panjangkan jenggot dan berbedalah dengan orang-orang musyrik" (Disepakati keshahihannya dari hadist Ibnu Umar). Ketika manusia melihat orang alim itu memanjangkan jenggot dan menyeru manusia agar mereka melakukannya dan mereka mengikutinya, berarti dia telah menghidupkan sunnah, yaitu sunnah yang wajib yang tidak boleh ditinggalkan, karena melaksanakan hadist yang telah disebutkan di atas dan hadist-hadist lain yang semakna dengannya. Maka dia mendapatkan pahala seperti pahal mereka. Atau seorang alim yang tinggal di suatu tempat yang tidak mengetahui kewajiban shalat Jum'at shg mereka tidak pernah melaksanakannya. Lalu dia mengajari mereka shalat dan shalat Jum'at bersama mereka, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka. 

Begitu juga dalam negeri yang tidak mengetahui shalat witir, lalu dia mengajari mereka tentang shalat witir dan mereka mengikutinya, maka dia mendapatkan pahala seperti yang mereka dapatkan. Masih banyak lagi ibadah-ibadah dan hukum-hukum agama lainnya, lalu dia membuang kebodohan dari sebagian negeri atau kabilah tsb. Orang yang menghidupkannya di antara mereka dan menyebarluaskannya di antara mereka disebut membuat sunnah yang baik dalam islam, sehingga dengan itu dia termasuk orang yang membuat sunnah yang baik dalam Islam. 

Yang dimaksud dengan membuat bid'ah dalam agama adalah bid'ah yang tidak diizinkan oleh Allah. Semua bid'ah adalah sesat karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda dalam hadist shahih: "Jauhilah perkara yang baru karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat". Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal bukan atas perintah kami maka amalan itu ditolak". Dalam lafal lain disebutkan: "Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami ini yang bukan merupakan bagian darinya, maka dia ditolak" (Mutaffaq 'Alaih) Dalam sebuah khutbah Jum'at, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Amma ba'du; sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sedangkan sejelek-jelek perkara adalah perkara yangbaru dan setiap perkara yang baru (bid'ah) adalah sesat" (Ditakhrij oleh Muslim dalam Shahih-nya). 

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Majmu' Al-Fatawa, 1, 841-843, bagian kedua artikel Abdullah Ath-Thayyar.

Hukum Ridha' Terhadap Qadar

Hukum Ridha' Terhadap Qadar Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Bagaimana hukum ridha (rela) kepada Qadar? dan apakah do'a itu bisa menolak Qadha? Jawaban. Ridha pada Qadar hukumnya wajib, karena hal itu termasuk kesempurnaan ridha akan rububiyah Allah. Maka setiap mu'min harus ridha pada Qadha' Allah. Akan tetapi Muqadha (sesuatu yang diqadha') masih perlu dirinci, karena sesuatu yang diqadha berbeda dengan Qadha itu sendiri. Qadha adalah perbuatan Allah, sedangkan sesuatu yang diqadha' adalah sesuatu yang dikenai Qadha'. Maka Qadha' yang merupakan perbuatan Allah harus kita relakan dan dalam kondisi apapun kita tidak boleh membencinya selamanya. 

Adapun sesuatu yang diqadha' terbagi menjadi tiga macam: 
[1] Wajib direlakan 
[2] Haram direlakan. 
[3] Disunnahkan untuk direlakan 

Sebagai contoh, perbuatan maksiyat adalah sesuatu yang diqadha oleh Allah dan ridha pada kemasyiatan hukumnya haram, sekalipun dia terjadi atas Qadha Allah. Maka barangsiapa melihat pada kema'siyatan, maka dia harus rela dari sisi Qadha' yang telah lakukan Allah dan harus mengatakan bahwa Allah Maha Bijaksana dan kalau kebijakan-Nya tidak menentukan ini, maka dia tidak akan pernah terjadi. Adapun dari sisi sesuatu yang diqadha', maka perbuatan tersebut wajib tidak direlakan dan wajib menghilangkan kema'siyatan tersebut dari dirimu sendiri dan orang lain. 

Sebagian dari sesuatu yang diqadha' harus direlakan, seperti kewajiban syar'iyah, karena Allah telah menentukannya secara riil dalam syar'iyah. Maka kita harus merelakannya, baik dari sisi Qadha'nya maupun sesuatu yang diqadha'. 

Bagian ketiga disunnahkan untuk merelakannya dan diwajbkan bersabar karenanya, yaitu berbagai musibah yang terjadi, Maka semua musibah yang terjadi, menurut para ulama, disunnahkan untuk merelakan dan tidak diwajibkan. Akan tetapi wajib bersabar karenanya. Perbedaan antara sabar dan rela adalah bahwa dalam sabar seseorang tidak menginginkan apa yang terjadi, akan tetapi dia tidak mencoba sesuatu yang menyalahi syara' dan menghilangkan kesabaran, sedangkan rela adalah seseorang tidak membenci apa yang terjadi, sehingga terjadinya atau tidak terjadinya baginya sama saja. Inilah perbedaan antara rela dengan sabar. 

Oleh karena itu, para ulama Jumhur mengatakan : "Sesungguhnya sabar itu wajib, sedangkan rela itu disunnahkan". Adapun pertanyaan : "Apakah do'a itu dapat menolak Qadha", maka jawabnya demikian : Sebenarnya do'a merupakan sebab teraihnya sesuatu yang dicari dan dalam kenyataannya, do'a dapat menolak Qadha dan tidak dapat menolaknya sekaligus. Artinya terdapat dua sisi pandang dalam do'a. Sebagai contoh orang sakit terkadang berdo'a kepada Allah (untuk disembuhkan), kemudian sembuh. Maka dalam hal ini, seandainya ia tidak berdo'a, maka dia akan tetap sakit, akan tetapi dengan do'a tersebut dia menjadi sembuh. 

Hanya saja kita dapat mengatakan bahwa Allah telah menetapkan, sembuhnya penyakit tersebut dengan lantaran do'a dan ini telah tertulis/tersurat. Maka do'a tersebut secara lahir dapat menolak Qadar, di mana manusia meyakini bahwa kalau tidak ada do'a tersebut, maka penyakit tersebut akan tetap diderita. Akan tetapi, hakikatnya, do'a tersebut tidak menolak Qadha', karena pada dasarnya do'a tersebut juga telah tertulis (ditakdirkan) dan kesembuhan tersebut akan terjadi dengannya. Inilah Qadar yang sebenarnya telah tertulis di zaman azali. Demikianlah, sehingga segala sesuatu pasti melalui sebab dan sebab tersebut telah dijadikan Allah sebagai sebab teraihnya dan sesuatu itu semua telah tertulis sejak zaman azali sebelum terjadi. 

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Cara Menanggapi Orang Yang Berbuat Maksiat

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : Tentang jawaban seseorang yang berbuat maksiat ketika diseru kepada kebenaran : 'Sesunguhnya Allah belum menetapkan hidayah untukku, bagaimana bersikap terhadap orang semacam ini .?

Jawaban.
Jawabannya sederhana saja ; apakah kamu melihat yang ghaib atau kamu telah mengambil kesepakatan dengan Allah ? Jika ia menjawab : Ya, berarti ia kufur, karena ia mengaku mengetahui perkara yang ghaib. Dan jika ia menjawab : Tidak, ia kalah. Jika kamu tidak mengetahui bahwa Allah belum menetapkan hidayah kepadamu, maka mintalah hidayah, karena Allah tidak menahan hidayah kepadamu, bahkan Dia menyerumu kepada hidayah, Dia berkeingiinan agar kamu memperoleh hidayah seraya mengingatkanmu dari kesesatan dan melarangmu dari padanya.

Dan Allah tidak berkehendak meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam kesesatan selama-lamanya. Dia berfirman.

"Artinya : Allah menerangkan kepadamu supaya kamu tidak sesat" [An-Nisa : 176]

"Artinya : Allah hendak menerangkan kepadamu dan menunjukkanmu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu dan hendak menerima taubatmu" [An-Nisa : 26]

Dari itu bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla dan Allah lebih bergembira dengan taubatmu dibanding kegembiraan seseorang yang kehilangan kendaraan yang membawa makanan dan minumannya dan ia telah berputus asa. Lalu ia tertidur di bawah pohon menanti kematian. Kemudian ia bangun, tiba-tiba ia melihat tali untanya tergantung di pohon. Segera ia mengambil tali untanya dengan amat sangat gembira sembari berkata : Ya Allah, engkau hambaku dan aku rabbmu. Ia keliru saking gembiranya.

Maka kami tegaskan sekali lagi, bertaubatlah kepada Allah dan Allah memerintahkanmu untuk mengambil petunjuk. Dia pun telah menjelaskan jalan yang hak kepadamu.

Wallahu waliyyut Taufiq.


[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Benarkah Lafazh Kullu Dhalaalatin Fin-Naar Tidak Shahih?

Al-Akh menulis :
Orang-orang yang 'suka membid'ahkan' biasanya suka memakai hadits riwayat Muslim, Nasa'i dan Ibn Majah, bahwa "Setiap perkara yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah dalalah (sesat) dan setiap yang sesat adalah Neraka". Riwayat dari Nasa'i berderajat hasan, dari Ibn Majah berderajat dha'if, dan dari Muslim berderajat Sahih. Ibn Taymiyyah dalam Majmu'a Fatawa (19:191) mengatakan bahwa klausa 'setiap yang sesat adalah di Neraka' tidak sahih dari Nabi SAW, yang dikonfirmasi oleh Shaykh Abdul Fattah Abu Ghudda (salah seorang ahli hadits mutaakhir).

[Ana katakan] Semoga Allah memudahkan ana dan antum semua memahami nash ini dan melapangkan hati menerima Al-Haqq. Perlu ditekankan nash perkataan – Wa Kullu Bid’atin Dhalaalatun – diriwayatkan secara Masyhur (diriwayatkan oleh lebih dari dua orang perawi dari kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum). sedangkan tambahannya – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar - diriwayatkan dari beberapa jalan yang berporos kepada perawi Ja'far, dari ayahnya, dari Jabir radhiyallahu 'anhu, Insya Allah ana akan tuliskan tanggapannya di bawah guna menjelaskan kekeliruan antum (penulis) tentang pernyataan "tidak shahih-nya" lafazh tambahannya – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar.

CATATAN
Namun sebelum itu ana hendak bertanya mengenai tulisan antum :
Ibn Taymiyyah dalam Majmu'a Fatawa (19:191) mengatakan bahwa klausa 'setiap yang sesat adalah di Neraka' tidak sahih dari Nabi SAW, yang dikonfirmasi oleh Shaykh Abdul Fattah Abu Ghudda (salah seorang ahli hadits mutaakhir).

[Ana katakan] Ana telah membuka kitab yang dimaksud dan, Al-Hamdu Lillah, memang ada beliau menukil hadits tersebut, namun tidak ada SAMA SEKALI takhrij beliau rahimahullah menyatakan tambahan “setiap yang sesat adalah di Neraka adalah tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”, ana mau minta penjelasan dan klarifikasi dari antum, bagaimana rincian takhrij beliau tentang lafazh tambahan ini? Sebagai informasi, bahkan (diinformasikan kepada kami) di juz lain beliau menukil dan berhujjah dengan tambahan ini, silahkan lihat (31/36-37) dan (11/471-472) atau mungkin antum belum pernah membaca langsung kitab ini?

Adapun kemudian, dalam tulisan-tulisan di bawah ini, insya Allah akan ana lampirkan secara utuh dengan sanadnya jalan-jalan yang melampirkan tambahan – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar setelah ana melampirkan lafazh Muslim dan jalan-jalan yang sampai kepada beliau rahimahullah.
---------------------------------------------------
SANAD-SANAD IMAM MUSLIM 
Riwayat-12
Pada sanad Pertama :
Muslim berkata – dan telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul-Mutsanna, menceritakan kepada kami ‘Abdul-wahhab ibnu ‘Abdil-Majid, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhuthbah memerah kedua mata beliau dan meninggikan suaranya, dan beliau amat keras kemarahannya, seakan beliau (seorang panglima) yang berkata memperingatkan pasukan  - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”. Dan beliau bersabda, “Telah dibangkitkan aku dan hari kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan beliau mendekatkan antara dua jarinya, telunjuk dan tengah dan beliau bersabda, “Amma ba’du (adapun setelah itu), maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya, dan setiap perkara baru adalah Bid’ah, setiap bid’ah adalah Dhalaalah (kesesatan).” Kemudian beliau bersabda, Aku lebih berhak (dicintai) bagi setiap mu’min dari dirinya sendiri. Barangsiapa yang meninggalkan harta maka itu bagi keluarganya, barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku.”
-----------
Pada sanad Kedua :
(Muslim berkata – ) dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdu ibnu Humaid, menceritakan kepada kami Khalid ibnu Mukhlad, menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Bilal, menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, katanya, Aku telah mendengar Jabir ibnu ‘Abdillah berkata,
“Pernah ada khuthbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at, beliau mengucap hamdalah kepada Allah dan menyanjung atas-Nya kemudian bersabda sesudah itu dan sungguh beliau meninggikan suaranya.”
Kemudian perawi mengiring hadits semisal.
-----------
Pada sanad Ketiga :
(Muslim berkata – ) dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhuthbah kepada manusia , beliau mengucap hamdalah kepada Allah, dan menyanjung atas-Nya dan dengan apa yang Dia memang pemiliknya, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan (oleh-Nya) maka tidak ada satupun yang sanggup memberi petunjuk padanya. Dan sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah,”
Kemudian perawi mengiringi hadits Ats-Tsaqafiy (yakni ‘Abdul-wahhab ibnu ‘Abdil-majid, perawi pada sanad pertama – peny.).

HR. Muslim, Shahih no.867 (dengan tiga jalur sanad yang porosnya di perawi Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

==================================================================
SANAD-SANAD BAGI HADITS DGN TAMBAHAN - WA KULLU DHALAALATIN FIN-NAAR
==================================================================
[Ana katakan] Pada hadits imam Muslim memang tidak ada lafazh tambahan – Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar (Dan setiap kesesatan berada di neraka) – tapi pada jalur lain ada.

Seperti pada sanad An-Nasa’iy sbb :
Riwayat-13
An-Nasa’iy berkata – mengabarkan kepada kami ‘Utbah ibnu ‘Abdillah, katanya, memberitakan kepada kami Ibnul-Mubarak, dari Sufyan, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam Khuthbahnya, di mana beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah, dan menyanjung atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah kesesatan, DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan ketika beliau menyebutkan As-Saa’ah memerah kedua pipi atas beliau, dan meninggi suara beliau dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.
Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”

R. An-Nasa’iy, Sunan (Al-Mujtaba) no.1578 (3/188-189), juga dalam kitab besar beliau As-Sunan Al-Kubra no.1786 (1/550), 5892 (3/449).
---------------------
[Ana katakan] Sedangkan pada sanad Al-Baihaqiy sbb :
Riwayat-14
Al-Baihaqiy berkata – mengabarkan kepada kami ‘Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan, mengabarkan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad Ath-Thabraniy, menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad Al-Firyabiy, menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, menceritakan kepada kami Ibnul-Mubarak, dari Sufyan, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di khuthbah beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah dan memuji atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satu pun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya. Dan setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”

HR. Al-Baihaqi, Al-I’tiqad Wal-Hidayah Ilaa Sabiilir-Rasyaad ‘Ala Madzhabis-Salaf Wa Ashhaabil-Hadits hal.229
-------------------
[Ana katakan] Kemudian Ibnu Khuzaimah menurunkan dua sanad, sanad yang kedua serupa dengan An-Nasa’iy sbb :
Riwayat-15
Ibnu Khuzaimah berkata – mengabarkan kepada kami Abu Thahir, menceritakan kepada kami Abu Bakr, menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu ‘Isa Al-Bisthamiy, menceritakan kepada kami Anas, yakni Ibnu ‘Iyadh, dari Ja’far ibnu Muhammad.
[Ibnu Khuzaimah berkata -] dan menceritakan kepada kami ‘Utbah ibnu ‘Abdillah, mengabarkan kepada kami ‘Abdullah ibnul-Mubarak, mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khuthbahnya, beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah dan memuji atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah kesesatan, DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan ketika beliau menyebutkan As-Saa’ah memerah kedua pipi atas beliau, dan meninggi suara beliau dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.
Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku (atau) atas tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”

HR. Ibnu Khuzaimah [223-311H], Shahih no.1785 (3/143), cet. Al-Maktabul-Islamiy, Beirut 1970/1390H, Tahqiq DR.Muhammad Mushthafa Al-A’zhamiy.

==========================
DIAGRAM SANAD IMAM MUSLIM
==========================
Diagram sanad Pertama :
6. Muslim dengan tiga sanad, sanad yang pertama sbb :
5. Muhammad ibnul-Mutsanna
4. ‘Abdul-Wahhab ibnu Al-Majid Ats-Tsaqafiy
3. Ja’far ibnu Muhammad ibnu ‘Ali ibnul-Husain ibnu ‘Ali ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum
2. Ayahnya (Muhammad ibnu ‘Ali)
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad yang kedua sbb : 
7. Muslim
6. ‘Abd ibnu Humaid
5. Khalid ibnu Mukhlad
4. Sulaiman ibnu Bilal
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad yang ketiga sbb :
7. Muslim
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah
5. Waki’
4. Sufyan Ats-Tsauriy
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma


=================================================================
DIAGRAM SANAD DENGAN TAMBAHAN LAFAZH – KULLU DHALAALATIN FIN-NAAR
=================================================================
[Ana katakan] Kemudian An-Nasa’iy (Riwayat-13) memiliki rangkaian sanad mirip dengan sanad Muslim yang ketiga berporos pada Sufyan sbb :
7. An-Nasa’iy
6. ‘Utbah ibnu ‘Abdillah ibnu ‘Utbah Al-Yahmidiy Al-Marwaziy
5. ‘Abdullah ibnul-Mubarak
4. Sufyan ibnu Sa’id ibnu Masruq Ats-Tsauriy
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

[Ana katakan] Semua perawi Bukhari dan Muslim, kecuali Ayahnya Ja’far, dia hanya perawi Muslim sedangkan perawi ‘Utbah Al-Marwaziy dia adalah Syaikh dari An-Nasa’iy rahihumullah.

Al-Hamdu Lillah, ternyata Syaikh An-Nasa’iy (‘Utbah) memiliki saksi-saksi yang tsiqah salah satunya yakni Hibban ibnu Musa (tertulis dalam kitab Hayyan, ini keliru) , seorang perawi Bukhari dan Muslim dalam sanad Al-Baihaqi juga berporos pada ‘Abdullah ibnul-Mubarak (Lihat Riwayat-14) sbb :
10. Al-Baihaqiy
9. ‘Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan
8. Sulaiman ibnu Ahmad Ath-Thabraniy (penulis kitab-kitab Al-Mu’jam, seorang Imam Al-Hafizh)
7. Ja’far ibnu Muhammad Al-Firyabiy  [w298H] beliau se zaman dengan An-Nasa’iy [215-303H]
6. Hibban ibnu Musa   [perawi Bukhari-Muslim]
5. ‘Abdullah ibnul-Mubarak   [perawi Bukhari-Muslim]
4. Sufyan Ats-Tsauriy   [perawi Bukhari-Muslim]
3. Ja’far   [perawi Bukhari-Muslim]
2. Ayahnya   [perawi Muslim]
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma   [perawi Bukhari-Muslim]

[Ana katakan] Apabila ingin tambah, maka perhatikan jalan lain yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah rahimahullah (lihat Riwayat-15), dengan dua sanadnya :

Sanad pertama :
8. Ibnu Khuzaimah
7. Abu Thahir (Muhammad)
6. Abu Bakr (Muhammad ibnu Ishaq)
5. Al-Husain ibnu ‘Isa Al-Bisthamiy
4. Anas ibnu ‘Iyadh
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Muhammad ibnu ‘Ali
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad kedua :
7. Ibnu Khuzaimah
6. 'Utbah ibnu 'Abdillah
5. 'Abdullah ibnul-Mubarak
4. Sufyan
3. Ja'far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma                       

[Ana katakan] Dengan demikian cukup sudah informasi bagi seorang untuk menunjukkan dan mengetahui bahwa hadits ini Tsabit (kokoh) dan telah shah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana perkataan Jumhur para ahli hadits dalam masalah derajat hadits ini.

====================================
DIAGRAM SANAD LAINNYA DARI ABU NU’AIM
====================================
[Ana katakan] Atau apabila masih kurang, pernah Ustadz-ustadz kami menginformasikan atau mengisyaratkan agar melihat sanad-sanad yang lainnya. Al-Hamdu Lillah kami menemukan jalan lainnya sbb :
Riwayat-16
Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy berkata – menceritakan kepada kami Khalid ibnu Mukhlad, menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, menceritakan kepada kami Abul-Hasan ‘Ali ibnu Muhammad ibnu Ahmad Al-‘Asakiriy ‘Asakir beliau menyenangkan orang yang melihat di Baghdad, menceritakan kepada kami Al-Firyabiy (yakni Ja’far ibnu Muhammad), menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah dan ‘Utsman, mereka berdua berkata, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan.
(Abu Nu’aim berkata –) dan memberitakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad (Ath-Thabrani), menceritakan kepada kami ‘Ubaid ibnu Ghannam, menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan.
(Abu Nu’aim berkata –) dan menceritakan kepada kami Abu Muhammad ibnu Hayyan, menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Ma’dan, menceritakan kepada kami Salim ibnu Junaadah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam khuthbahnya, beliau memuji Allah dan menyanjung pada-Nya dan Dia sebagai pemiliknya, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang sanggup menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang sanggup memberinya petunjuk. Sebenar-benar ucapan (hadits) adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah Muhdatsaat (perkara-perkara baru), dan setiap yang Muhdats (baru) adalah Dhalaalah (kesesatan), DAN SETIAP DHALAALAH (kesesatan) BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (kiamat) sebagaimana dua ini.” Dan beliau ketika menyebutkan As-Saa’ah tampak memerah kedua pipi atas beliau dan meninggi suara beliau, dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.  Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”
(Abu Nu’aim berkata) Telah meriwayatkan Muslim dari Abu Bakr (ibnu Abi Syaibah), dari Waki’ (Lihat sanad Muslim yang ke-3 – peny.)

R. Abu Nu’aim, Al-Musnad Al-Mustakharaj ‘Ala Shahihil-Imaami Muslim no.1953 (1/557).
----------------------------------
[Ana katakan] Abu Nu’aim [w430H] menurunkan tiga sanad sbb -
Sanad pertama :
11.Abu Nu’aim
10.Khalid ibnu Mukhlad,
9. Sulaiman ibnu Bilal,
8. Abul-Hasan ‘Ali ibnu Muhammad ibnu Ahmad Al-‘Asakiriy
7. Al-Firyabiy (yakni Ja’far ibnu Muhammad)
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah   dan   ‘Utsman
5. Waki’
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

Sanad kedua : 
9. Abu Nu’aim
8. Sulaiman ibnu Ahmad (Ath-Thabrani)
7. ‘Ubaid ibnu Ghannam
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah
5. Waki’                                   
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

Sanad ketiga :
9. Abu Nu’aim
8. Abu Muhammad ibnu Hayyan
7. Abu Bakr ibnu Ma’dan
6. Salim ibnu Junaadah
5. Waki’
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

===========
KESIMPULAN
===========
[Ana katakan] Kesimpulannya, tambahan lafazh – Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar - telah jelas diriwayatkan dari dua jalan yang porosnya ada pada Sufyan Ats-Tsauriy dan Anas ibnu 'Iyadh.

1. Melalui Jalur Sufyan terdapat dua jalan :
- Telah meriwayatkan darinya : Waki’ dan ‘Abdullah ibnul-Mubarak.
- Dan telah meriwayatkan dari Waki’ : Ibnu Abi Syaibah, ‘Utsman, Salim ibnu Junaadah (para perawi Abu Nu’aim) Setingkat dengan Waki’ adalah ‘Abdullah ibnul-Mubarak, telah meriwayatkan darinya Hibban ibnu Musa dan ‘Utbah ibnu ‘Abdillah (perawi Al-Baihaqi dan An-Nasa’iy).

2. Sedangkan jalur Anas hanya satu, dari Al-Husain ibnu 'Isa Al-Bisthamiy.

CATATAN
Perawi Anas ibnu 'Iyadh adalah perawi Bukhari-Muslim, beliau bernama - Abu Dhamrah Anas ibnu 'Iyadh Al-Madiniy Al-Laitsiy.
Lihat Rijaalu Shahih Al-Bukhari no.95 (1/88), oleh Ahmad ibnu Muhammad ibnul-Husain Abu Nashr Al-Bukhari Al-Kalabadziy [323-398H]; Rijaalu Muslim no.91 (1/67), oleh Ahmad ibnu 'Ali ibnu Manjawaih Abu Bakr Al-Ashbahaniy [347-428H].

Perawi Al-Husain ibnu 'Isa Al-Qumasiy Al-Bisthamiy Ath-Thaa'iy Al-Khurasaniy adalah perawi SHADUQ (jujur), sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Raziy dalam Al-Jarh Wat-Ta'dil no.271 (3/60), beliau menulis :
Al-Husain ibnu 'Isa ibnu Hamran Abu 'Ali Al-Busthamiy, dia meriwayatkan dari Abu Dhamrah Anas ibnu 'Iyadh, ibnu Abi Fudaik, Zaid ibnu Al-Hubab dan Abi Usamah. Ayahku telah mendengar (riwayat) darinya. Aku telah mendengar ayahku berkata itu, dan telah ditanya ayahku tentang perawi lalu ayahku berkata, SHADUQ.
Tambahan, dia juga perawi Bukhari-Muslim masing-masing satu sanad/hadits, lihat Rijaalu Shahih Al-Bukhari no.220 (1/173) dan Rijaalu Muslim no.263 (1/137).

[Ana katakan] Allahu Akbar, maka entah dari jalan manakah orang sekaliber Syaikh Abu Ghuddah Ash-Shufiy, yang khabarnya beliau seorang Muhaddits murid dari Al-Kautsari Al-Hanafiy, bisa melemahkan tambahan lafazh di atas, padahal sanad-sanad ini kuat dan saling menguatkan, bahkan orang yang lebih ahli dari beliau, yakni Al-Baihaqi [384-458H], berkata :
Dan telah diriwayatkan kepada kami dalam satu hadits yang telah TSABIT (kokoh) dari Jabir ibnu ‘Abdillah (kemudian menukil hadits yang telah lalu Riwayat-12).

[Ana katakan] Atau mungkin si penterjemah yang salah paham terhadap takhrij Asy-Syaikh, atau penyalin yang tidak amanah atau … (maka lain kali harap dijelaskan alasan antum menolak ke-shahih-an atau pernyataan derajat Hasan para ‘ulama tentang hadits ini). Sekian.
---------------------

CATATAN -
Al-Akh menulis :
Riwayat dari Nasa'i berderajat hasan, dari Ibn Majah berderajat dha'if, dan dari Muslim berderajat Sahih

[Ana katakan] Dan ana sudah periksa sanad Ibnu Majah, Sunan no.45 (1/17), Ibnu Majah meriwayatkan dari dua orang Syaikhnya, matannya tanpa tambahan Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar.
1. Suwaid ibnu Sa’id ibnu Sahl [salah seorang perawi Muslim dan syaikh Muslim, lihat Rijaalu Muslim no.624 (1/290) oleh Abu Bakr Ahmad ibnu ‘Ali ibnu Manjawaih Al-Ashbahaniy [347-428H] dan
2. Ahmad ibnu Tsabit Al-Jahdariy [dipuji oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqaat no.12165 (8/42)] sedangkan mereka berdua meriwayatkan dari ‘Abdul-wahhab Ats-Tsaqafiy [perawi Bukhari-Muslim], meriwayatkan dari Ja’far [perawi Bukhari dan Muslim], dari ayahnya dari Ja’far.

[Ana heran] Lalu dari mana antum (penulis) meletakkan derajat ke-dha’if-annya? Antum berdusta atau antum tertipu oleh pendusta? Hendaklah kita berhati-hati dalam menilai derajat hadits kalau pun menyalin jelaskan dari siapa dan di kitab mana, kemudian apa alasannya menolak hadits itu. Dan jangan kita sekali-kali memasuki tempat yang bukan tempat kita (menentukan derajat hadits) kalau kita bukan ahlinya. Wallahu a’lam.

Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Ada polemik yang dirasakan sebagian manusia, yaitu bagaimana Allah akan menyiksa karena ma'shiyat, padahal telah Dia takdirkan hal itu atas manusia ?"
 

Jawaban.
Sebenarnya hal ini bukanlah polemik. Langkah manusia untuk berbuat jahat kemudian dia disiksa karenanya bukanlah persoalan yang sulit. Karena langkah manusia pada berbuat jahat adalah langkah yang sesuai dengan pilihannya sendiri dan tidak ada seorangpun yang mengacungkan pedang di depannya dan mengatakan : "Lakukanlah perbuatan munkar itu", akan tetapi dia melakukannya atas pilihannya sendiri. Allah telah berfirman.
"Artinya : Sesungguhnya Aku telah memberi petunjuk kepadanya pada jalan (yang benar), maka adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur" [Al-Insan : 3]
 

Maka baik kepada mereka yang bersyukur maupun yang kufur, Allah telah menunjukkan dan menjelaskan tentang jalan (yang benar). Akan tetapi sebagian manusia ada yang memilih jalan tersebut dan sebagian lagi ada yang tidak memilihnya. Penjelasan (Allah) tersebut pertama dengan Ilzam (keharusan/kepastian logis) dan kedua dengan Bayan (penjelasan).
 

Dalam hal Ilzam, maka kita dapat mengatakan kepada seseorang : Amal duniawi dan amal ukhrawimu sebenarnya sama dan seharusnya anda memperlakukan keduanya secara sama. Sebagai hal yang maklum adalah apabila ditawarkan kepadamu dua pekerjaan duaniawi yang telah direncanakan. Yang pertama kamu yakini mengandung kabaikan untuk dirimu dan yang kedua merugikan dirimu. Maka pastilah anda akan memilih pekerjaan pertama yang merupakan pekerjaan terbaik dari dua rencana di atas dan tidak mungkin anda memilih pekerjaan kedua, yang merupakan pilihan terburuk lalu anda mengatakan : "Qadar (Allah) telah menetapkan saya padanya (piliha kedua). 

Dengan demikian, apa yang telah anda tetapkan dalam menempuh jalan dunia semestinya anda lakukan dalam menempuh jalan ukhrawi. Kita dapat mengatakan : Allah telah menawarkan di hadapanmu dua amal akhirat, yaitu amal buruk yang berupa amal-amal yang menyalahi syara' dan amal shalih yang berupa amal-amal yang sesuai dengan syara'. Maka apabila dalam berbagai pekerjaan duniawi anda memilih perbuatan yang baik, mengapa anda tidak memilih amal baik dalam amal akhirat. Karena itu, seharusnya anda memilih amal baik di dalam mencari akhirat sebagaimana anda harus memilih pekerjaan baik dalam mencari dunia. Inilah cara Ilzam.
 

Adapun cara Bayan, maka kita dapat mengatakan bahwa kita semua tidak tahu apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kita. Allah berfirman. "Artinya : Setiap diri tidak mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok" [Luqman : 34]
 

Maka ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, berarti dia melakukannya atas pilihannya sendiri dan bukan karena mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. Oleh karena itu, sebagian ulama' mengatakan : "Sesungguhnya Qadar itu rahasia yang tertutup". Dan kita semua tidak pernah mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan begitu, kecuali bila perbuatan tersebut telah terjadi. Dengan demikian, ketika kita melakukan sesuatu perbuatan, maka bukan berarti kita melakukannya atas dasar bahwa perbuatan tersebut telah ditetapkan bagi kita. Akan tetapi kita melakukannya berdasarkan pilihan kita sendiri dan ketika telah terjadi maka kita baru tahu bahwa Allah telah mentakdirkannya untuk kita.
 

Oleh karena itu, manusia tidak bisa beralasan dengan takdir kecuali setelah terjadinya perbuatan tersebut. Disebutkan dari Amirul Mu'minin, Umar bin Kahtthab, sebuah kisah (mungkin benar dari beliau mungkin tidak) bahwa seorang pencuri yang telah memenuhi syarat potong tangan dilaporkan kepada beliau. Ketika Umar menyuruh untuk memotong tangannya, dia mengatakan : "Tunggu dulu hai Amirul Mu'minin, demi Allah aku tidak mencuri itu kecuali karena Qadar Allah". Umar mengatakan : "Aku tidak akan memotong tanganmu kecuali karena Qadar Allah". Maka Umar berargumentasi dengan argumentasi yang digunakan pencuri tersebut tentang kasus pencurian terhadap harta orang-orang Islam. Padahal Umar bisa berargumentasi dengan Qadar dan Syari'at, karena beliau diperintahkan untuk memotong tangannya. Adapun dalam kasus tersebut, beliau berargumentasi dengan Qadar karena argumentasi tersebut lebih tepat mengenai sasaran.
 

Berdasarkan hal itu, maka seseorang tidak lagi berargumentasi dengan Qadar untuk berbuat ma'shiyat kepada Allah dan dalam kenyataannya dia memang tidak punya alasan dalam hal di atas. Allah berfirman.
"Artinya : (Aku telah mengutus) para rasul yang membawa berita gembira dan memberi peringatan agar manusia tidak punya alasan/argumentasi kepada Allah setelah adanya para rasul" [An-Nisa : 165]

 

Sementara semua amal manusia, setelah datangnya para rasul, tetap terjadi atas Qadar Allah. Walaupun Qadar bisa dijadikan argumentasi akan tetapi selalu bersama-sama dengan terutusnya para rasul selamanya. Dengan demikian jelas bahwa tidak layak berbuat ma'shiyat dengan alasan Qadha' dan Qadar Allah, karena dia tidak dipaksa untuk melakukannya.
Semoga Allah memberi Taufiq.


[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Memahami Kebersamaan Allah dengan makhlukNya

Dalam memahami ayat-ayat tentang dekatnya Allah dengan makhluk-Nya, seringkali terjadi kesalahan pada kaum muslimin. Kebanyakan mereka mengira bahwa ayat-ayat tersebut bertentangan dengan dalil-dalil ‘uluw (tinggi)nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. 

Seperti ayat-ayat yang menyatakan kebersamaan Allah سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya sebagai berikut: ...وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ....]الحديد:4[ …Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada... (al-Hadiid: 4) Juga ayat yang menyatakan dekatnya Allah dengan makhluk-Nya. Diantaranya Allah سبحانه وتعالى berfirman: ...وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ]ق: 16[ … dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Qaaf: 16) Ayat-ayat yang menyatakan Allah sebagai ilah di bumi. 

Seperti Ucapan Allah سبحانه وتعالى: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي اْلأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. ]الزخرف: 84[ Dan Dialah ilah di langit dan ilah di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (az-Zukhruf: 84) Ayat-ayat yang tersebut di atas dan yang semakna dengannya seringkali menyebabkan sebagian kaum muslimin keliru dalam memahaminya. 

Sebagian diantara mereka menyatakan “Allah ada di mana-mana”, “Allah di hati” atau “Allah menyatu dengan makhluk-Nya”, seperti ucapan Jahm bin Sofwan -pencetus aliran Jahmiyah:”Allah di segala sesuatu, bersama setiap sesuatu”. Hingga akhirnya mereka menentang sekian banyak ayat dan hadits yang menyatakan tingginya Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Bantahan dan penjelasannya 

A. Kebersamaan (Ma'iyyah) Allah Secara bahasa makna ma’iyyah (kebersamaan) tidak mesti bermakna bersatu dalam satu tempat, tetapi bermakna kebersamaan secara mutlak, apakah bersama-sama dalam satu amalan yang sama di tempat yang berbeda atau bersama dalam artian mengawasi atau memperhatikan dan lain-lain. Maka ma’iyyah Allah harus ditafsirkan sesuai dengan dlahir ayatnya masing-masing. (Lihat ucapan Syaikh Utsaimin dalam Qawa’idul Mutsla hal. 103). 

Maka ayat-ayat tentang tentang kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, sama sekali tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang menyatakan tingginya Dzat Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Hal itu karena bagi Allah semuanya dekat, karena Allah Maha Besar, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, bahkan mengetahui bisikan-bisikan yang masih ada dalam dada. Kalau kita perhatikan lebih lanjut ayat-ayat di atas secara lengkap, akan terlihat kalau ayat-ayat tersebut berbicara tentang ilmu, pendengaran, penglihatan, atau dukungan dan pembelaan Allah سبحانه وتعالى. 

Diantaranya: 1. Kebersamaan dengan ilmu-Nya Seperti Ucapan Allah

 سبحانه وتعالى: هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. ]الحديد: 4[ 

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa di atas 'arsy. Dia Maha Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (al-Hadiid: 4) Imam Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya tentang ayat di atas, maka beliau menjawab: “Dia bersama kalian yakni dengan ilmunya” (diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang Hasan dalam kitab Asma’ wa sifat, hal. 341) 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Dlahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah yang sesuai dengan konteksnya adalah memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian. Inilah maksud perkataan salaf: ‘Bersama mereka dengan ilmu-Nya’. Dan ini adalah dlahir ayat dan hakikatnya (bukan ta’wil –pent.) (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juz V hal. 103) 

Faedah lain dalam ayat ini adalah tidak adanya pertentangan antara tinggi (‘uluw)nya Allah di atas ‘Arsy dan kebersamaan (ma’iyyah)-Nya dengan makhluk-Nya, karena dalam ayat ini kedua-duanya disebutkan bersama-sama. Berkata Ibnul Qayyim: “Dalam ayat ini Allah menghabarkan bahwa diri-Nya tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan sekaligus menyatakan bersama makhluk-Nya, melihat dan memperhatikan amalan mereka dari atas ‘Arsy-Nya. Seperti dalam hadits: (“Allah di atas ‘Arsy-Nya melihat apa yang kalian kerjakan”). Maka ‘uluw-Nya Allah tidak bertentangan dengan ma’iyyahnya; dan maiyahnya tidak membatalkan ‘uluwnya. Kedua-duanya adalah benar”. (Mukhtashar Shawa’iq al-Mursalah, hal. 410). 

Demikian pula ayat berikut menunjukkan ilmu Allah: 
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرَ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا... ]المجادلة: 7[ 
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. 

Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (al-Mujadalah: 7) 

2. Kebersamaan dengan makna mendengar dan melihat 
Seperti dalam firman-Nya: قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى. ]طه: 46[ Allah berfirman:"Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (Thaha: 46) Demikian pula ayat Allah: قَالَ كَلاَّ فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُون ]الشعراء: 15[ Allah berfirman: "Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Kami bersama kalian mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan). (asy-Syuara: 15) 3. Kebersamaan dengan makna dukungan dan pembelaan Allah سبحانه وتعالى 
berfirman:
 فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ. ]محمد: 35[ 
Janganlah kalian lemah dan minta damai padahal kalianlah yang di atas dan Allah pun bersama kalian. Dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amal kalian. (Muhammad: 35). Dan juga ayat Allah:
 إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلاَئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ اْلأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ. ]الأنفال: 12[ 
(Ingatlah), ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kalian. Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir. Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.… (al-Anfaal: 12) 

B. Kedekatan Allah Demikian pula dengan ayat-ayat yang menunjukkan kedekatan Allah dengan makhluk-Nya, bermakna dekat dengan ilmunya, mendengarkan doa dan mengabulkannya atau bermakna malaikat-malaikat yang diperintahkan-Nya. Dengan tidak menafikan dekatnya Allah secara Dzat-Nya. Walaupun kita meyakini tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya, tetapi bagi Allah semuanya dekat, karena besarnya Dzat Allah. Dunia dan seisinya serta langit di sisi-Nya tidak lebih seperti biji khardalah (partikel terkecil). Tentu saja secara Dzat-Nya Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. 

1. Dekat dengan makna Maha Mengetahui, Maha Mendengar do’a dan mengabulkan
 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ. ]البقرة: 186[
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al-Baqarah: 186) 
Dan firman-Nya: 
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ. ]هود: 61[ 
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu ilah selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Rabb-ku amat dekat lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)." (Huud: 61) 

2.Dekat dengan makna para malaikat yang diperintahkan-Nya Seperti firman-Nya
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ]ق: 16[ 
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf: 16) 

Syaikh Utsaimin menyatakan bahwa makna dekat pada kalimat di atas adalah dengan para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ini berkaitan dengan ayat selanjutnya: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ. ]ق: 18[ Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf: 18) (Lihat Qawaidul Mutsla, Syaikh Utsaimin) 

Demikian pula dalam firman-Nya: وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لاَ تُبْصِرُونَ. ]الواقعة: 85[ Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (al-Waqiaah:85) Makna kedekatan dalam ayat ini adalah berkaitan dengan kematian ketika mendatangi seseorang. Maka yang dimaksud adalah para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ayat sebelumnya membahas tentang kematian, yang tentunya Allah memerintahkan kepada malaikat pencabut nyawa. Jadi, yang dimaksud dekat di sini adalah malaikat yang diperintahkan-Nya. 

Dan sering dalam al-Qur'an disebutkan apa yang dilakukan oleh para malaikat dengan kami karena mereka melakukan semua apa yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Maka Allah nisbatkan apa yang mereka lakukan kepada diri-Nya. (Lihat Qawaidul Mutsla, Syaikh Utsaimin, hal. 120) 

C. Allah sebagai ilah di bumi Adapun ayat-ayat yang menyatakan Allah sebagai ilah di bumi maka bermakna diibadahi di langit dan di bumi. 

Seperti ayat Allah سبحانه وتعالى: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي اْلأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. ]الزخرف: 84[ Dan Dialah ilah di langit dan ilah di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (az-Zukhruf: 84) Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih, bahwa Qatadah berkata tentang ayat ini: Dialah yang diibadahi di langit dan di bumi. Adapun ayat lainnya dalam surat al-Anaam: 
3: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي اْلأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ. ]الأنعام: 3[ 
Dan Dialah Allah di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan; dan mengetahui apa yang kalian usahakan. (al-Anaam: 3) 

Sebagian para ulama membacanya dengan waqaf (berhenti) pada kalimat fis samaawati, sehingga bermakna Dialah Allah yang di langit. Kemudian memulai membaca dari fil ardli yalamu sirrakum… sehingga bermakna Dan Dia di bumi maha Mengetahui apa yang kamu usahakan. Sedangkan sebagian yang lain membacanya dengan waqaf pada kalimat fil ardli, sehingga bermakna Dialah Allah di langit dan di bumi. 

Maka dengan bacaan kedua ini kita katakan seperti pada ayat di atas, bahwa Allah adalah sesembahan yang diibadahi oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan Dzat Allah menyatu dengan makhluk atau berada di bumi bersama makhluk-Nya. Wallahu alam 

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, Edisi: 51/Th. II, 16 Muharram 1426 H/25 Februari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Kebersamaan Allah Tidak Bertentangan dengan Ketinggian-Nya". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jumat. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiyaus Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)

Bagaimana Amal Perbuatan Itu Ditimbang

Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Bagaimana amal perbuatan itu ditimbang sedangkan ia adalah sekedar sifat bagi yang melakukan amalan tersebut ? 

Jawaban. Kaedah dalam menghadapi masalah semacam ini adalah - - sebagaimana telah kita kemukakan juga di atas- - kita pasrah dan menerima apa adanya saja. Kita tidak perlu menanyakan bagaimana dan mengapa. 

Namun ada juga ada ulama –Rahimahullah- yang berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan diatas. Mereka mengatakan bahwa amal perbuatan tersebut itu dirubah menjadi suatu bentuk sehingga ia memiliki jism lalu ditaruh dalam timbangan sehingga dapat diketahui berat atau ringannya amal tersebut. 

Mereka mengambil contoh dari hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Pada hari kiamat kematian itu dijadikan dalam bentuk kibas (domba), kemudian memanggil penghuni jannah, “Wahai penghuni jannah!” Lalu merekapun muncul dan menjulurkan lehernya untuk melihat. Kemudian ia memanggil. ‘Wahai penghuni naar !” Lalu merekapun muncul dan menjulurkan lehernya untuk melihat. “Apa yang terjadi ?” Lalu kematian itu didatangkan dalam bentuk domba, lalu ditanyakan, “Apakah kalian tahu ini ?” Mereka menjawab “Ya”. Kematian itu akhirnya disembelih antara jannah dan naar, lalu dikatakan, “Wahai penghuni jannahm kekallah dan tiada kematian. Dan wahai penghuni naar, kekallah dan tiada kematian!”. 

Kita semua tahu bahwa kematian merupakan sifat, akan tetapi Allah menjadikannya sebagai suatu bentuk yang berdiri sendiri. Demikian jugalah amal perbuatan itu menjadi suatu bentuk lalu ditimbang. Wallahu ‘alam. 

[Disalin dari buku Fatawa ‘Anil Iman wa Arkanihi edisi Indonesia Soal Jawab Masalah Iman Dan Tauhid, At-Tibyan hal 45-46]

Apakah Do'a Bisa Merubah Ketentuan?

Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Apakah do'a berpengaruh merubah apa yang telah tertulis untuk manusia sebelum kejadian?"

Jawaban. Tidak diragukan lagi bahwa do'a berpengaruh dalam merubah apa yang telah tertulis. Akan tetapi perubahan itupun sudah digariskan melalui do'a. Janganlah anda menyangka bila anda berdo'a, berarti meminta sesuatu yang belum tertulis, bahkan do'a anda telah tertulis dan apa yang terjadi karenanya juga tertulis. Oleh karena itu, kita menemukan seseorang yang mendo'akan orang sakit, kemudian sembuh, juga kisah kelompok sahabat yang diutus nabi singgah bertamu kepada suatu kaum. Akan tetapi kaum tersebut tidak mau menjamu mereka. Kemudian Allah mentakdirkan seekor ular menggigit tuan mereka. Lalu mereka mencari orang yang bisa membaca do'a kepadanya (supaya sembuh). Kemudian para sahabat mengajukan persyaratan upah tertentu untuk hal tersebut. Kemudian mereka (kaum) memberikan sepotong kambing. Maka berangkatlah seorang dari sahabat untuk membacakan Al-Fatihah untuknya. Maka hilanglah racun tersebut seperti onta terlepas dari teralinya. Maka bacaan do'a tersebut berpengaruh menyembuhkan orang yang sakit.

Dengan demikian, do'a mempunyai pengaruh, namun tidak merubah Qadar. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran do'a yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena Qadar Allah, begitu juga segala sebab mempunyai pengaruh terhadap musabab-nya dengan izin Allah. Maka semua sebab telah tertulis dan semua musabab juga telah tertulis.

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Dapatkah Orang Mati Dapat Mendengar?

Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah para wali yang shalih mendengar panggilan orang-orang yang memanggilnya ? Apa makna sabfda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Demi Allah sesungguhnya orang yang telah meninggal dari kalian (di dalam kuburnya) mendengar bunyi langkah terompah kalian?”. Mohon penjelasan ! 

Jawaban. Pada dasarnya bahwa orang yang telah meninggal dunia baik yang shalih atau yang tidak shalih, mereka tidak mendengar perkataan manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang maha Mengetahui” [Fathir : 14] Begitu juga firmanNya Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar” [Fathir : 22] 

 Akan tetapi terkadang Allah memperdengarkan kepada mayit suara dari salah satu rasulnya untuk suatu hikmah tertentu, seperti Allah memperdengarkan suara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang kafir yang terbunuh di perang Badar, sebagai penghinaan dan penistaan untuk mereka, dan kemuliaan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada para sahabatnya ketika sebagian mereka mengingkari hal tersebut. “Artinya : Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab” [1] 

Lihat pembahasan ini di kitab “An-Nubuwat”, kitab “At-Tawassul Wa-al-Wasilah” dan kitab “Al-Furqan”, seluruhnya karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka kitab-kitab tersebut cukup memadai dalam mengupas pembahasan ini. 

Adapun mayat yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meninggalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pendengaran khusus yang ditetapkan oleh nash (dalil), dan tidak lebih dari itu (tidak lebih dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu. 

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya. 

 [Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah I/151-152 dari Fatwa no. 7366 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 7/I/ 1424H] _________ Foote Note [1] Hadits Riwayat Ahmad –dan ini lafalnya- (I/27 : III/104, 182, 263 dan 287), Bukhari II/101 dan Nasa’i IV/110

 

NETWORKEDBLOGS

MITRA LINK

WIDGEO

    blog-jasri.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

TUKAR LINK

SAHABAT

al-Ilmu Naafi' © 2012 | Template By Jasriman Sukri