Alasan Orang Melakukan Maksiat

Bayak orang yang munggunakan firman Allah : "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" sebagai dalil untuk berbuat maksiat. dengan meyakini bahwa Allah maha pengampun dan penyayang. namun dilain sisi tidak tahu atau menganggap remeh ancaman Allah terhadap orang yang berbuat maksiat.

Jawaban Apabila ia berhujjah dengan ayat tadi, maka hujjah kita adalah dengan firman Allah Ta'ala : "Artinya : Beritahukan kepada hamba-hambaKu bahwa Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa siksaKu adalah siksa yang pedih" [Al-Hijr : 49-50] Dan dengan firmanNya "Artinya : Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya. Dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" Al-Ma'idah : 98]. 

Jadi apabila didatangkan ayat-ayat yang mengandung pengharapan, datangkan saja ayat-ayat yang mengandung ancaman. Jawaban seperti itu sebenarnya bukan jawaban dari dia, melainkan jawaban orang-orang yang menganggap remeh/ringan. 

Maka kiapun mengatakan kepadanya ; Bertakwalah kamu kepada Allah dan laksanakanlah apa-apa yang diwajibkan Allah kepadamu serta mintalah ampun kepadaNya, karena tidak setiap orang yang menunaikan sesuatu yang diwajibkan Allah dapat melakukannya dengan sempurna. 

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Cara Mengatasi Gangguan Jin

Kita mengetahui bahwa jin itu sosok yang nyata, mereka diciptakan dari api, mereka makan dan minum serta menikah, dan mereka mempunyai anak keturunan. Sebagaimana Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman tentang setan, "Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripadaKu, sedang mereka adalah musuhmu." (Al-Kahfi: 50). 

Mereka diberi tugas untuk beribadah. Allah telah mengutus Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kepada mereka, dan mereka hadir untuk mendengarkan al-Qur'an, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala , "Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bah-wasannya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur'an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami'." (Al-Jin: 1-2). 

Dan, sebagaimana firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai mereka kem-bali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membe-narkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus'." (Al-Ahqaf: 29-30). 

Diriwayatkan dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bahwa beliau berkata kepada jin yang datang kepada beliau dan meminta perbekalan kepada beliau, "Untuk kalian (golongan jin) segala tulang yang disebut nama Allah atasnya (pada saat penyembelihannya), yang kalian dapat-kan masih banyak dagingnya." Mereka -yakni jin- akan menyertai manusia, jika makan dan tidak menyebut nama Allah atas makannya. Karenanya, menye-but nama Allah ketika makan adalah wajib, demikian pula ketika minum, sebagaimana Nabi Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan hal itu. Atas dasar itu maka jin itu nyata, dan mengingkari keber-adaan mereka adalah mendustakan al-Qur'an dan mengingkari Allah. 

Mereka diperintah dan dilarang serta mereka yang kafir akan masuk neraka, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala, "Allah berfirman, 'Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (kedalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya)'." (Al-A'raf: 38). 

Sedang mereka yang beriman akan masuk ke dalam surga juga, berdasarkan firmanNya, "Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan. Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan." (Ar-Rahman: 46). 

Pernyataan tersebut berlaku bagi jin dan manusia. Dan, ber-dasarkan firmanNya, "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terha-dap pertemuanmu dengan hari ini Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,' kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-An'am: 130). 

Serta ayat-ayat dan nash-nash yang menunjukkan bahwa mereka diberi tugas. Mereka masuk surga jika beriman dan mereka masuk neraka jika tidak beriman. Adapun pengaruh mereka terhadap manusia adalah kenyataan juga. Mereka memberi pengaruh kepada manusia, baik dengan masuk dalam tubuh manusia lalu menjadi gila atau sakit, maupun mempengaruhinya dengan menakut-nakutinya dan sejenisnya. 

Untuk mengatasi pengaruh mereka ialah dengan wirid-wirid yang disyariatkan, misalnya membaca ayat Kursi (al-Baqarah: 255). Sebab, barangsiapa yang membaca ayat Kursi pada malam hari, maka ia senantiasa mendapatkan penjagaan, yaitu dijaga oleh malaikat Allah, dan setan tidak mendekatinya hingga pagi hari. 

Fatawa al-'Ilaj bi al-Qur’an wa as-Sunnah - ar-Ruqa wama yata'allaqu biha, Syaikh Ibnu Baz, Ibn Utsaimin, al-Lajnah ad-Da'imah, hal. 67-69. Dan, fatwa ini adalah fatwa Syaikh Muhammad bin Utsaimin

Keajaiban Perintah Sujud

Apabila anda sedang mengalami stress, atau tensi anda naik, atau pusing yang berkepanjangan, atau mengalami nervous (salah satu jenis penyakit penyimpangan perilaku berupa uring-uringan, gelisah, takut, dll). Jika anda takut terkena tumor, maka sujud adalah solusinya.... Dengan sujud akan terlepas segala penyakit nervous dan penyakit kejiwaan lainnya. Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Dhiyaa\'uddin Hamid, dosen jurusan biologi dan ketua departemen radiasi makanan di lembaga penelitian teknologi radiasi. 

Sudah lumrah bahwasannya manusia apabila mengalami kelebihan dosis dalam radiasi, dan hidup di lingkungan tegangan listrik atau medan magnet, maka hal itu akan berdampak kepada badannya, akan bertambah kandungan elektrik di dalam tubuhnya. Oleh karena itu, Dr. Dhiyaa\' mengatakan bahwa sesungguhnya sujud bisa menghilangkan zat-zat atau pun hal-hal yang menyebabkan sakit. 

Pembahasan Seputar Organ Tubuh 
Dia adalah salah satu organ tubuh... dan dia membantu manusia dalam merasakan lingkungan sekitar, dan berinteraksi dengan dirinya, dan itulah tambahan dalam daerah listrik dan medan magnet yang dihasilkan oleh tubuh menyebabkan gangguandan merusak fungsi organ tubuh sehingga akhirnya mengalami penyakit modern yang disebut dengan \"perasaan sumpeg\", kejang-kejang otot, radang tenggorokan, mudah capek/lelah, stress ... sampai sering lupa, migrant, dan masalah menjadi semakin parah apabila tanpa ada usaha untuk menghindari penyebab semua ini, yaitu menjauhkan tubuh kita dari segala peralatan dan tempat-tempat yang demikian. 

Solusinya ??? 
Harus dengan mengikuti sesuatu yang diridhai untuk mengeliminir hal itu semua, ... yaitu dengan bersujud kepada Satu-satunya Dzat yang Maha Esa sebagaimana kita sudah diperintah untuk hal itu, dimana sujud itu dimulai dengan menempelkan dahi ke bumi (lantai). Maka di dalam sujud akan mengalir ion-ion positif yang ada di dalam tubuh ke bumi (sebagai tempat ion-ion negatif). dan seterusnya sempurnalah aktivitas penetralisiran dampak listrik dan magnet. Lebih khusus lagi ketika sujud dengan menggunakan 7 anggota badan (dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) maka dalam posisi ini sangat memudahkan bagi kita menetralisir dampak listrik dan magnet. 

Diketahui selama penelitian, agar semakin sempurna proses penetralisiran dampak itu semua, maka sujud harus menghadap ke Makkah (Masjid Ka\'bah), yaitu aktivitas yang kita lakukan di dalam shalat (qiblat). Sebab Makkah adalah pusat bumi di alam semesta. Dan penelitian semakin jelas bahwa menghadap ke Makkah ketika sujud adalah tempat yang paling utama untuk menetralisir manusia dari hal-hal yang mengganggu fikirannya dan membuat rileks. Subhanallah, ....pengetahuan yang menakjubkan.

Hadits Palsu Tentang Surat Yasin

Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum'at (hari Jum'at menjelang khatib naik mimbar, tambahan-peny), ketika mengawali atau menutup majlis ta'lim, ketika ada atau setelah kematian dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur'an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.

Al-Qur'an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur'an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur'an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).

Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin. Sebagaimana surat-surat Al-Qur'an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum'at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain. Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur'an serta mengamalkannya.

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah. Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA'IF DAN MAUDHU' Adapun hadits-hadits yang semuanya dha'if (lemah) dan atau maudhu' (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut : "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum'at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya". (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu'at, 1/247).

Keterangan : Hadits ini Palsu. Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu'at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I'tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua'ah hal. 268 No. 944). "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya".

Keterangan : Hadits ini Lemah. Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu'jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma'in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa : Mizanul I'tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465). "Artinya : Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid".

Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu'jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa'id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa : Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I'tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45). "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya".

Keterangan : Hadits ini Lemah. Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja'. Atha' bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H. (Periksa : Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I'tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22). "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an dua kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini Palsu. (Lihat Dha'if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani). "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an sepuluh kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini Palsu. (Lihat Dha'if Jami'ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani). "Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur'an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur'an sepuluh kali".

Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah Hadits Dha'if No. 169, hal. 202-203) Imam Waqi' berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa'i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta. (Periksa : Mizanul I'tidal IV:173). "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi".

Keterangan : Hadits ini Lemah. Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I'tidal II:283). "Artinya : Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu".

Keterangan : Hadits ini Lemah. Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas). "Artinya : Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza') melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya". Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa'i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu 'Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa : Mizanul I'tidal IV : 90-91).

Penjelasan Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur'an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur'an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur'an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha'if, hal. 113-115).

KHATIMAH Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur'an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu A'lam.

Cara Menanggapi Orang Yang Berbuat Maksiat

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : Tentang jawaban seseorang yang berbuat maksiat ketika diseru kepada kebenaran : 'Sesunguhnya Allah belum menetapkan hidayah untukku, bagaimana bersikap terhadap orang semacam ini .?

Jawaban.
Jawabannya sederhana saja ; apakah kamu melihat yang ghaib atau kamu telah mengambil kesepakatan dengan Allah ? Jika ia menjawab : Ya, berarti ia kufur, karena ia mengaku mengetahui perkara yang ghaib. Dan jika ia menjawab : Tidak, ia kalah. Jika kamu tidak mengetahui bahwa Allah belum menetapkan hidayah kepadamu, maka mintalah hidayah, karena Allah tidak menahan hidayah kepadamu, bahkan Dia menyerumu kepada hidayah, Dia berkeingiinan agar kamu memperoleh hidayah seraya mengingatkanmu dari kesesatan dan melarangmu dari padanya.

Dan Allah tidak berkehendak meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam kesesatan selama-lamanya. Dia berfirman.

"Artinya : Allah menerangkan kepadamu supaya kamu tidak sesat" [An-Nisa : 176]

"Artinya : Allah hendak menerangkan kepadamu dan menunjukkanmu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu dan hendak menerima taubatmu" [An-Nisa : 26]

Dari itu bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla dan Allah lebih bergembira dengan taubatmu dibanding kegembiraan seseorang yang kehilangan kendaraan yang membawa makanan dan minumannya dan ia telah berputus asa. Lalu ia tertidur di bawah pohon menanti kematian. Kemudian ia bangun, tiba-tiba ia melihat tali untanya tergantung di pohon. Segera ia mengambil tali untanya dengan amat sangat gembira sembari berkata : Ya Allah, engkau hambaku dan aku rabbmu. Ia keliru saking gembiranya.

Maka kami tegaskan sekali lagi, bertaubatlah kepada Allah dan Allah memerintahkanmu untuk mengambil petunjuk. Dia pun telah menjelaskan jalan yang hak kepadamu.

Wallahu waliyyut Taufiq.


[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Benarkah Lafazh Kullu Dhalaalatin Fin-Naar Tidak Shahih?

Al-Akh menulis :
Orang-orang yang 'suka membid'ahkan' biasanya suka memakai hadits riwayat Muslim, Nasa'i dan Ibn Majah, bahwa "Setiap perkara yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah dalalah (sesat) dan setiap yang sesat adalah Neraka". Riwayat dari Nasa'i berderajat hasan, dari Ibn Majah berderajat dha'if, dan dari Muslim berderajat Sahih. Ibn Taymiyyah dalam Majmu'a Fatawa (19:191) mengatakan bahwa klausa 'setiap yang sesat adalah di Neraka' tidak sahih dari Nabi SAW, yang dikonfirmasi oleh Shaykh Abdul Fattah Abu Ghudda (salah seorang ahli hadits mutaakhir).

[Ana katakan] Semoga Allah memudahkan ana dan antum semua memahami nash ini dan melapangkan hati menerima Al-Haqq. Perlu ditekankan nash perkataan – Wa Kullu Bid’atin Dhalaalatun – diriwayatkan secara Masyhur (diriwayatkan oleh lebih dari dua orang perawi dari kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum). sedangkan tambahannya – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar - diriwayatkan dari beberapa jalan yang berporos kepada perawi Ja'far, dari ayahnya, dari Jabir radhiyallahu 'anhu, Insya Allah ana akan tuliskan tanggapannya di bawah guna menjelaskan kekeliruan antum (penulis) tentang pernyataan "tidak shahih-nya" lafazh tambahannya – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar.

CATATAN
Namun sebelum itu ana hendak bertanya mengenai tulisan antum :
Ibn Taymiyyah dalam Majmu'a Fatawa (19:191) mengatakan bahwa klausa 'setiap yang sesat adalah di Neraka' tidak sahih dari Nabi SAW, yang dikonfirmasi oleh Shaykh Abdul Fattah Abu Ghudda (salah seorang ahli hadits mutaakhir).

[Ana katakan] Ana telah membuka kitab yang dimaksud dan, Al-Hamdu Lillah, memang ada beliau menukil hadits tersebut, namun tidak ada SAMA SEKALI takhrij beliau rahimahullah menyatakan tambahan “setiap yang sesat adalah di Neraka adalah tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”, ana mau minta penjelasan dan klarifikasi dari antum, bagaimana rincian takhrij beliau tentang lafazh tambahan ini? Sebagai informasi, bahkan (diinformasikan kepada kami) di juz lain beliau menukil dan berhujjah dengan tambahan ini, silahkan lihat (31/36-37) dan (11/471-472) atau mungkin antum belum pernah membaca langsung kitab ini?

Adapun kemudian, dalam tulisan-tulisan di bawah ini, insya Allah akan ana lampirkan secara utuh dengan sanadnya jalan-jalan yang melampirkan tambahan – wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar setelah ana melampirkan lafazh Muslim dan jalan-jalan yang sampai kepada beliau rahimahullah.
---------------------------------------------------
SANAD-SANAD IMAM MUSLIM 
Riwayat-12
Pada sanad Pertama :
Muslim berkata – dan telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul-Mutsanna, menceritakan kepada kami ‘Abdul-wahhab ibnu ‘Abdil-Majid, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhuthbah memerah kedua mata beliau dan meninggikan suaranya, dan beliau amat keras kemarahannya, seakan beliau (seorang panglima) yang berkata memperingatkan pasukan  - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”. Dan beliau bersabda, “Telah dibangkitkan aku dan hari kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan beliau mendekatkan antara dua jarinya, telunjuk dan tengah dan beliau bersabda, “Amma ba’du (adapun setelah itu), maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya, dan setiap perkara baru adalah Bid’ah, setiap bid’ah adalah Dhalaalah (kesesatan).” Kemudian beliau bersabda, Aku lebih berhak (dicintai) bagi setiap mu’min dari dirinya sendiri. Barangsiapa yang meninggalkan harta maka itu bagi keluarganya, barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku.”
-----------
Pada sanad Kedua :
(Muslim berkata – ) dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdu ibnu Humaid, menceritakan kepada kami Khalid ibnu Mukhlad, menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Bilal, menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, katanya, Aku telah mendengar Jabir ibnu ‘Abdillah berkata,
“Pernah ada khuthbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at, beliau mengucap hamdalah kepada Allah dan menyanjung atas-Nya kemudian bersabda sesudah itu dan sungguh beliau meninggikan suaranya.”
Kemudian perawi mengiring hadits semisal.
-----------
Pada sanad Ketiga :
(Muslim berkata – ) dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhuthbah kepada manusia , beliau mengucap hamdalah kepada Allah, dan menyanjung atas-Nya dan dengan apa yang Dia memang pemiliknya, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan (oleh-Nya) maka tidak ada satupun yang sanggup memberi petunjuk padanya. Dan sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah,”
Kemudian perawi mengiringi hadits Ats-Tsaqafiy (yakni ‘Abdul-wahhab ibnu ‘Abdil-majid, perawi pada sanad pertama – peny.).

HR. Muslim, Shahih no.867 (dengan tiga jalur sanad yang porosnya di perawi Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

==================================================================
SANAD-SANAD BAGI HADITS DGN TAMBAHAN - WA KULLU DHALAALATIN FIN-NAAR
==================================================================
[Ana katakan] Pada hadits imam Muslim memang tidak ada lafazh tambahan – Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar (Dan setiap kesesatan berada di neraka) – tapi pada jalur lain ada.

Seperti pada sanad An-Nasa’iy sbb :
Riwayat-13
An-Nasa’iy berkata – mengabarkan kepada kami ‘Utbah ibnu ‘Abdillah, katanya, memberitakan kepada kami Ibnul-Mubarak, dari Sufyan, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam Khuthbahnya, di mana beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah, dan menyanjung atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah kesesatan, DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan ketika beliau menyebutkan As-Saa’ah memerah kedua pipi atas beliau, dan meninggi suara beliau dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.
Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”

R. An-Nasa’iy, Sunan (Al-Mujtaba) no.1578 (3/188-189), juga dalam kitab besar beliau As-Sunan Al-Kubra no.1786 (1/550), 5892 (3/449).
---------------------
[Ana katakan] Sedangkan pada sanad Al-Baihaqiy sbb :
Riwayat-14
Al-Baihaqiy berkata – mengabarkan kepada kami ‘Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan, mengabarkan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad Ath-Thabraniy, menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad Al-Firyabiy, menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, menceritakan kepada kami Ibnul-Mubarak, dari Sufyan, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di khuthbah beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah dan memuji atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satu pun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya. Dan setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”

HR. Al-Baihaqi, Al-I’tiqad Wal-Hidayah Ilaa Sabiilir-Rasyaad ‘Ala Madzhabis-Salaf Wa Ashhaabil-Hadits hal.229
-------------------
[Ana katakan] Kemudian Ibnu Khuzaimah menurunkan dua sanad, sanad yang kedua serupa dengan An-Nasa’iy sbb :
Riwayat-15
Ibnu Khuzaimah berkata – mengabarkan kepada kami Abu Thahir, menceritakan kepada kami Abu Bakr, menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu ‘Isa Al-Bisthamiy, menceritakan kepada kami Anas, yakni Ibnu ‘Iyadh, dari Ja’far ibnu Muhammad.
[Ibnu Khuzaimah berkata -] dan menceritakan kepada kami ‘Utbah ibnu ‘Abdillah, mengabarkan kepada kami ‘Abdullah ibnul-Mubarak, mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir ibnu ‘Abdillah, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khuthbahnya, beliau mengucapkan Hamdalah kepada Allah dan memuji atas-Nya dengan apa yang Dia memang pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang sanggup menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu pun yang sanggup memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara barunya dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah kesesatan, DAN SETIAP KESESATAN BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (As-Saa’ah) seperti dua ini.” Dan ketika beliau menyebutkan As-Saa’ah memerah kedua pipi atas beliau, dan meninggi suara beliau dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.
Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku (atau) atas tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”

HR. Ibnu Khuzaimah [223-311H], Shahih no.1785 (3/143), cet. Al-Maktabul-Islamiy, Beirut 1970/1390H, Tahqiq DR.Muhammad Mushthafa Al-A’zhamiy.

==========================
DIAGRAM SANAD IMAM MUSLIM
==========================
Diagram sanad Pertama :
6. Muslim dengan tiga sanad, sanad yang pertama sbb :
5. Muhammad ibnul-Mutsanna
4. ‘Abdul-Wahhab ibnu Al-Majid Ats-Tsaqafiy
3. Ja’far ibnu Muhammad ibnu ‘Ali ibnul-Husain ibnu ‘Ali ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum
2. Ayahnya (Muhammad ibnu ‘Ali)
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad yang kedua sbb : 
7. Muslim
6. ‘Abd ibnu Humaid
5. Khalid ibnu Mukhlad
4. Sulaiman ibnu Bilal
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad yang ketiga sbb :
7. Muslim
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah
5. Waki’
4. Sufyan Ats-Tsauriy
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma


=================================================================
DIAGRAM SANAD DENGAN TAMBAHAN LAFAZH – KULLU DHALAALATIN FIN-NAAR
=================================================================
[Ana katakan] Kemudian An-Nasa’iy (Riwayat-13) memiliki rangkaian sanad mirip dengan sanad Muslim yang ketiga berporos pada Sufyan sbb :
7. An-Nasa’iy
6. ‘Utbah ibnu ‘Abdillah ibnu ‘Utbah Al-Yahmidiy Al-Marwaziy
5. ‘Abdullah ibnul-Mubarak
4. Sufyan ibnu Sa’id ibnu Masruq Ats-Tsauriy
3. Ja’far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

[Ana katakan] Semua perawi Bukhari dan Muslim, kecuali Ayahnya Ja’far, dia hanya perawi Muslim sedangkan perawi ‘Utbah Al-Marwaziy dia adalah Syaikh dari An-Nasa’iy rahihumullah.

Al-Hamdu Lillah, ternyata Syaikh An-Nasa’iy (‘Utbah) memiliki saksi-saksi yang tsiqah salah satunya yakni Hibban ibnu Musa (tertulis dalam kitab Hayyan, ini keliru) , seorang perawi Bukhari dan Muslim dalam sanad Al-Baihaqi juga berporos pada ‘Abdullah ibnul-Mubarak (Lihat Riwayat-14) sbb :
10. Al-Baihaqiy
9. ‘Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan
8. Sulaiman ibnu Ahmad Ath-Thabraniy (penulis kitab-kitab Al-Mu’jam, seorang Imam Al-Hafizh)
7. Ja’far ibnu Muhammad Al-Firyabiy  [w298H] beliau se zaman dengan An-Nasa’iy [215-303H]
6. Hibban ibnu Musa   [perawi Bukhari-Muslim]
5. ‘Abdullah ibnul-Mubarak   [perawi Bukhari-Muslim]
4. Sufyan Ats-Tsauriy   [perawi Bukhari-Muslim]
3. Ja’far   [perawi Bukhari-Muslim]
2. Ayahnya   [perawi Muslim]
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma   [perawi Bukhari-Muslim]

[Ana katakan] Apabila ingin tambah, maka perhatikan jalan lain yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah rahimahullah (lihat Riwayat-15), dengan dua sanadnya :

Sanad pertama :
8. Ibnu Khuzaimah
7. Abu Thahir (Muhammad)
6. Abu Bakr (Muhammad ibnu Ishaq)
5. Al-Husain ibnu ‘Isa Al-Bisthamiy
4. Anas ibnu ‘Iyadh
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Muhammad ibnu ‘Ali
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

Sanad kedua :
7. Ibnu Khuzaimah
6. 'Utbah ibnu 'Abdillah
5. 'Abdullah ibnul-Mubarak
4. Sufyan
3. Ja'far
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma                       

[Ana katakan] Dengan demikian cukup sudah informasi bagi seorang untuk menunjukkan dan mengetahui bahwa hadits ini Tsabit (kokoh) dan telah shah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana perkataan Jumhur para ahli hadits dalam masalah derajat hadits ini.

====================================
DIAGRAM SANAD LAINNYA DARI ABU NU’AIM
====================================
[Ana katakan] Atau apabila masih kurang, pernah Ustadz-ustadz kami menginformasikan atau mengisyaratkan agar melihat sanad-sanad yang lainnya. Al-Hamdu Lillah kami menemukan jalan lainnya sbb :
Riwayat-16
Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy berkata – menceritakan kepada kami Khalid ibnu Mukhlad, menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, menceritakan kepada kami Abul-Hasan ‘Ali ibnu Muhammad ibnu Ahmad Al-‘Asakiriy ‘Asakir beliau menyenangkan orang yang melihat di Baghdad, menceritakan kepada kami Al-Firyabiy (yakni Ja’far ibnu Muhammad), menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah dan ‘Utsman, mereka berdua berkata, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan.
(Abu Nu’aim berkata –) dan memberitakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad (Ath-Thabrani), menceritakan kepada kami ‘Ubaid ibnu Ghannam, menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan.
(Abu Nu’aim berkata –) dan menceritakan kepada kami Abu Muhammad ibnu Hayyan, menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Ma’dan, menceritakan kepada kami Salim ibnu Junaadah, menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Ja’far, dari Ayahnya, dari Jabir, katanya,
Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam khuthbahnya, beliau memuji Allah dan menyanjung pada-Nya dan Dia sebagai pemiliknya, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang sanggup menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang sanggup memberinya petunjuk. Sebenar-benar ucapan (hadits) adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah Muhdatsaat (perkara-perkara baru), dan setiap yang Muhdats (baru) adalah Dhalaalah (kesesatan), DAN SETIAP DHALAALAH (kesesatan) BERADA DI NERAKA.”
Kemudian beliau bersabda, “Dibangkitkan aku dan kehancuran (kiamat) sebagaimana dua ini.” Dan beliau ketika menyebutkan As-Saa’ah tampak memerah kedua pipi atas beliau dan meninggi suara beliau, dan beliau amat keras kemarahannya seakan beliau memperingatkan pasukan - “(Awas musuh menyerang) di pagi kalian dan di sore kalian!”.  Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya, dan barangsiapa yang meninggalkan hutang atau meninggalkan keturunan (anak yatim) maka perkara itu menjadi tanggunganku. Dan aku lebih utama dibanding orang-orang yang beriman.”
(Abu Nu’aim berkata) Telah meriwayatkan Muslim dari Abu Bakr (ibnu Abi Syaibah), dari Waki’ (Lihat sanad Muslim yang ke-3 – peny.)

R. Abu Nu’aim, Al-Musnad Al-Mustakharaj ‘Ala Shahihil-Imaami Muslim no.1953 (1/557).
----------------------------------
[Ana katakan] Abu Nu’aim [w430H] menurunkan tiga sanad sbb -
Sanad pertama :
11.Abu Nu’aim
10.Khalid ibnu Mukhlad,
9. Sulaiman ibnu Bilal,
8. Abul-Hasan ‘Ali ibnu Muhammad ibnu Ahmad Al-‘Asakiriy
7. Al-Firyabiy (yakni Ja’far ibnu Muhammad)
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah   dan   ‘Utsman
5. Waki’
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

Sanad kedua : 
9. Abu Nu’aim
8. Sulaiman ibnu Ahmad (Ath-Thabrani)
7. ‘Ubaid ibnu Ghannam
6. Abu Bakr ibnu Abi Syaibah
5. Waki’                                   
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

Sanad ketiga :
9. Abu Nu’aim
8. Abu Muhammad ibnu Hayyan
7. Abu Bakr ibnu Ma’dan
6. Salim ibnu Junaadah
5. Waki’
4. Sufyan
3. Ja’far ibnu Muhammad
2. Ayahnya
1. Jabir ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu

===========
KESIMPULAN
===========
[Ana katakan] Kesimpulannya, tambahan lafazh – Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar - telah jelas diriwayatkan dari dua jalan yang porosnya ada pada Sufyan Ats-Tsauriy dan Anas ibnu 'Iyadh.

1. Melalui Jalur Sufyan terdapat dua jalan :
- Telah meriwayatkan darinya : Waki’ dan ‘Abdullah ibnul-Mubarak.
- Dan telah meriwayatkan dari Waki’ : Ibnu Abi Syaibah, ‘Utsman, Salim ibnu Junaadah (para perawi Abu Nu’aim) Setingkat dengan Waki’ adalah ‘Abdullah ibnul-Mubarak, telah meriwayatkan darinya Hibban ibnu Musa dan ‘Utbah ibnu ‘Abdillah (perawi Al-Baihaqi dan An-Nasa’iy).

2. Sedangkan jalur Anas hanya satu, dari Al-Husain ibnu 'Isa Al-Bisthamiy.

CATATAN
Perawi Anas ibnu 'Iyadh adalah perawi Bukhari-Muslim, beliau bernama - Abu Dhamrah Anas ibnu 'Iyadh Al-Madiniy Al-Laitsiy.
Lihat Rijaalu Shahih Al-Bukhari no.95 (1/88), oleh Ahmad ibnu Muhammad ibnul-Husain Abu Nashr Al-Bukhari Al-Kalabadziy [323-398H]; Rijaalu Muslim no.91 (1/67), oleh Ahmad ibnu 'Ali ibnu Manjawaih Abu Bakr Al-Ashbahaniy [347-428H].

Perawi Al-Husain ibnu 'Isa Al-Qumasiy Al-Bisthamiy Ath-Thaa'iy Al-Khurasaniy adalah perawi SHADUQ (jujur), sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Raziy dalam Al-Jarh Wat-Ta'dil no.271 (3/60), beliau menulis :
Al-Husain ibnu 'Isa ibnu Hamran Abu 'Ali Al-Busthamiy, dia meriwayatkan dari Abu Dhamrah Anas ibnu 'Iyadh, ibnu Abi Fudaik, Zaid ibnu Al-Hubab dan Abi Usamah. Ayahku telah mendengar (riwayat) darinya. Aku telah mendengar ayahku berkata itu, dan telah ditanya ayahku tentang perawi lalu ayahku berkata, SHADUQ.
Tambahan, dia juga perawi Bukhari-Muslim masing-masing satu sanad/hadits, lihat Rijaalu Shahih Al-Bukhari no.220 (1/173) dan Rijaalu Muslim no.263 (1/137).

[Ana katakan] Allahu Akbar, maka entah dari jalan manakah orang sekaliber Syaikh Abu Ghuddah Ash-Shufiy, yang khabarnya beliau seorang Muhaddits murid dari Al-Kautsari Al-Hanafiy, bisa melemahkan tambahan lafazh di atas, padahal sanad-sanad ini kuat dan saling menguatkan, bahkan orang yang lebih ahli dari beliau, yakni Al-Baihaqi [384-458H], berkata :
Dan telah diriwayatkan kepada kami dalam satu hadits yang telah TSABIT (kokoh) dari Jabir ibnu ‘Abdillah (kemudian menukil hadits yang telah lalu Riwayat-12).

[Ana katakan] Atau mungkin si penterjemah yang salah paham terhadap takhrij Asy-Syaikh, atau penyalin yang tidak amanah atau … (maka lain kali harap dijelaskan alasan antum menolak ke-shahih-an atau pernyataan derajat Hasan para ‘ulama tentang hadits ini). Sekian.
---------------------

CATATAN -
Al-Akh menulis :
Riwayat dari Nasa'i berderajat hasan, dari Ibn Majah berderajat dha'if, dan dari Muslim berderajat Sahih

[Ana katakan] Dan ana sudah periksa sanad Ibnu Majah, Sunan no.45 (1/17), Ibnu Majah meriwayatkan dari dua orang Syaikhnya, matannya tanpa tambahan Wa Kullu Dhalaalatin Fin-Naar.
1. Suwaid ibnu Sa’id ibnu Sahl [salah seorang perawi Muslim dan syaikh Muslim, lihat Rijaalu Muslim no.624 (1/290) oleh Abu Bakr Ahmad ibnu ‘Ali ibnu Manjawaih Al-Ashbahaniy [347-428H] dan
2. Ahmad ibnu Tsabit Al-Jahdariy [dipuji oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqaat no.12165 (8/42)] sedangkan mereka berdua meriwayatkan dari ‘Abdul-wahhab Ats-Tsaqafiy [perawi Bukhari-Muslim], meriwayatkan dari Ja’far [perawi Bukhari dan Muslim], dari ayahnya dari Ja’far.

[Ana heran] Lalu dari mana antum (penulis) meletakkan derajat ke-dha’if-annya? Antum berdusta atau antum tertipu oleh pendusta? Hendaklah kita berhati-hati dalam menilai derajat hadits kalau pun menyalin jelaskan dari siapa dan di kitab mana, kemudian apa alasannya menolak hadits itu. Dan jangan kita sekali-kali memasuki tempat yang bukan tempat kita (menentukan derajat hadits) kalau kita bukan ahlinya. Wallahu a’lam.

 

NETWORKEDBLOGS

MITRA LINK

WIDGEO

    blog-jasri.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

TUKAR LINK

SAHABAT

al-Ilmu Naafi' © 2012 | Template By Jasriman Sukri