Apakah jin dan syetan bisa / akan mati?

Dr.'Umar Sulaiman Al-Asyqar menjawab apa yang anda tanyakan tersebut diatas, dalam kitabnya 'Alam Al-Jinn wa Al-Syayathin, edisi Indonesia Jin, Setan, dan Iblis Menurut Al-Aur'an dan Sunnah, dan saya akan menyalinkannya secara ringkas. 

DEFINISI JIN Jin adalah suatu kehidupan yang berbeda dengan kehidupan manusia maupun malaikat. Ada titik persamaan antara manusia dengan jin, yaitu sama-sama berakal, dan sama-sama memiliki kemampuan memahami serta kemampuan memilih jalan yang baik dan buruk. Akan tetapi, jin berbeda dengan manusia dalam sejumlah hal, dan yang terpenting adalah dalam hal asal penciptaan. Mereka disebut jin karena mereka tidak terlihat oleh mata, "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya dapat melihat kalian padahal kalian tidak dapat melihat mereka" [Al-A'raf : 27] 

ASAL JIN Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan bahwa jin diciptakan dari api. Dalam firman-Nya disebutkan. "Kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat panas" [Al-Hijr : 27] dan "Dia menciptakan jin dari nyala api" [Al-Rahman : 15] Ibn 'Abbas, Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan, dan penafsir lain menafsirkan "nyala api" ( marij min nar) sebagai nyala yang terpanas. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa maksudnya adalah api yang murni dan terbaik [Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 1/59]. Imam Al-Nawawi, dalam kitab Syarh Muslim, mengatakan, "Al-Marij adalah nyala api yang bercampur dengan api yang hitam". Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Aisyah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam Alaihis Salam diciptakan dari tanah, sebagaimana telah dijelaskan kepada kalian". 

WAKTU PENCIPTAAN Kita tidak dapat meragukan lagi bahwa jin diciptakan lebih dahulu dibanding manusia, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas" [Al-Hijr : 26-27] Di dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan secara eksplisit bahwa jin diciptakan sebelum manusia. 

KEMATIAN SETAN Tidak perlu diragukan lagi bahwa golongan jin, termasuk di dalamnya setan, akan mati. Sebab, mereka semua termasuk ke dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan" [Al-Rahman : 26-28] Dalam shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Ibn Abbas bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, pernah berkata, "Aku berlindung kepada keagungan-Mu, tidak ada tuhan melainkan Engkau yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati". Sedangkan tentang umur mereka, yang dapat kita ketahui hanyalah yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tentang iblis, bahwa dia akan tetap hidup sampai datangnya hari kiamat, "Iblis menjawab, 'Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan' Allah berfirman : 'Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh" [Al-A'raf : 14-15]. Adapun selain iblis, yang kita ketahui hanyalah mereka berumur lebih panjang dibandingkan manusia. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa mereka akan mati adalah bahwa Khalid bin Walid pernah membunuh setan yang ada di Al-'Uza (sebuah pohon yang disembah oleh bangsa Arab), dan bahwa salah seorang sahabat pernah membunuh jin yang berbentuk ular, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

[Jin, setan dan Iblis Menurut Al-Qur'an dan Sunnah, hal.16-18, 33-34 Serambi Ilmu Semesta] ------------------------------------------------------------------------

Apakah Adzab Kubur Dapat Diringankan?

Apakah Adzab Kubur Terhadap Orang Mukmin Dapat Diringankan? Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah adzab kubur terhadap orang mukmin yang berbuat maksiat dapat diringankan? 

Jawaban Ya, kadang-kadang diringankan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah lewat dua kubur lalu berkata : “Keduanya benar-benar sedang diadzab, keduanya diadzab karena hal yang besar, benar, dia itu hal yang besar, salah satunya diadzab karena tidak bersuci dari kencing, atau beliau berkata : “Tidak bertabir waktu kencing, dan yang lain diadzab karena suka mengadu domba/membuat fitnah”. Kemudian beliau mengambil pelepah yang masih basah, lalu dibagi dua kemudian menancapkan pada tiap kubur satu buah dan berkata : “Semoga adzab keduanya diringankan selama pelepah itu berlum kering” 

[1] Ini merupakan dalil bahwa terkadang adzab kubur itu bisa diringankan, namun apa hubungan antara dua pelepah kurma yang basah itu dengan diringankannya dua orang yang sedang diadzab ini ? [1]. Ada yang berpendapat bahwa kedua pelepah ini senantiasa bertasbih selama belum kering, sedangkan tasbih bisa meringankan adzab bagi si mayit. Kesimpulan dari illat ini –yang kadang meleset jauh- bahwasanya disunnahkan kepada manusia untuk pergi ke kuburan dan bertasbih di sisinya agar adzabnya diringankan.

[2]. Sebagian ulama berkata : Penentuan seperti diatas adalah lemah karena dua pelepah itu tetap bertasbih baik dalam keadaan basah maupun kering, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” [Al-Isra : 44] 

Pernah terdengar tasbihnya kerikil oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal kerikil itu kering, jadi apa illatnya? Illatnya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengharap kepada Allah Azza wa Jalla agar adzab kedua orang itu diringankan selama dua pelepah itu masih basah, artinya bahwa tempo waktunya tidak panjang, dan hal itu dalam rangka untuk memberi peringatan akan perbuatan kedua orang tadi karena perbuatan mereka berdua itu persoalan besar, sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat : “benar, bahwa itu adalah urusan besar”. Orang yang pertama tidak bersuci dari kencing, dan bila tidak bersuci dari kencing berarti dia shalat tanpa bersuci. 

Sedangkan yang kedua banyak memfitnah/mengadu domba, yang merusak hubungan antara hamba-hamba Allah –aku berlindung kepada Allah- serta melemparkan diantara mereka api permusuhan dan kebencian, dan ini adalah persoalan besar. Inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, bahwa hal hal itu merupakan syafa’at sementara sebagai peringatan untuk umat bukan merupakan kebakhilan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi syafa’at selamanya. 

Beralih dari pembicaraan, kami katakan : bahwa sebagian ulama –semoga Allah memaafkan mereka- mengatakan : “Disunnahkan agar manusia meletakkan pelepah basah, atau pohon atau semacamnya di atas kuburan agar adzabnya diringankan, akan tetapi kesimpulan ini jauh sekali dan tidak boleh kita melakukan hal itu karena beberapa alasan : 

Pertama : Kita tidak tahu bahwa orang tersebut sedang diadzab, berbeda halnya dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Kedua : Jika kita melakukan hal itu maka kita telah berbuat buruk sangka terhadap mayit itu karena telah punya dugaan jelek (su’udzon) kepadanya bahwa dia sedang diadzab, siapa tahu dia sedang diberi nikmat. Siapa tahu mayit ini termasuk orang yang mendapat ampunan dari Allah sebelum matinya karena adanya satu dari sekian banyak sebab ampunan, lalu dia mati dan Rabb para hamba telah mema’afkannya, dan saat itu dia tidak berhak mendapatkan adzab. 

Ketiga : Kesimpulan ini menyelisihi pemahaman Salafush Shalih yang mereka itu merupakan manusia yang paling mengerti tentang syari’at Allah. Tidak ada seorangpun dari sahabat Radhiyalahu ‘anhum yang mengerjalan hal itu, lalu apa urusannya kita melakukan hal itu? 

Keempat : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka bagi kita (amal) yang lebih baik daripada hal itu. Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah usai penguburan mayit beliau berdiri dan berkata : “Artinya : Mintakanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah untuknya keteguhan karena dia sekarang akan ditanya” 

[2] [Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah] __________ Foote Note [1]. Dikeluarkan oleh Bukhari, Kitabul Janaiz, Bab Adzabul Qabri Minal Ghibah wal Baul : 1378 dan Muslim, Kitab Thaharah, bab Ad-Dalil A’la Najasatil Baul wa Wujubil Istira’ minah : 292 [2]. Diriwayatkan oleh Abu Daud, kitabul Jazaiz, bab Istighfar ‘indal qabri Lil Mayyit Fi Waqtil Inshairat : 3221]

Apa Karomah para wali itu?

Tanya : Apakah para wali memiliki karomah, apakah mereka mengatur alam raya di langit dan di bumi dan apakah mereka dapat memberikan syafaat –sementara mereka di alam barzakh- kepada penghuni dunia atau tidak ? 

Jawab : Karomah adalah perkara yang terjadi di luar kebiasaan yang Allah tampakkan lewat seorang hamba yang shaleh baik dalam keadaan hidup atau mati, sebagai pertanda kemuliaannya yang dengannya dia dapat menolak bahaya atau mendatangkan manfaat atau memenangkan yang haq. 

Hal tersebut tidak dimiliki hamba yang shaleh tadi kecuali jika Allah memberinya. Sebagaimana Rasulullah tidak dapat mendatangkan mu’jizat dari dirinya, tetapi semua itu dari Allah semata. Allah ta’ala berfirman: “ Dan orang-orang kafir Mekkah berkata: “ Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya ?”, katakanlah : “ Sesung-guhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata (Al Ankabut 50) 

Demikian juga orang shalih tidak mengatur jagad raya baik yang di langit maupun di bumi, kecuali apa yang Allah berikan lewat sebab-sebab sebagaimana manusia pada umumnya, seperti bertani, membangun, berdagang dan yang semacamnya dari perbuatan manusia atas izin Allah ta’ala. Dan tidak mungkin mereka memberikan syafa’at sedang mereka di alam barzakh kepada seseorang makhluk baik dia dalam keadaan hidup atau telah meninggal. 

Allah ta’ala berfirman: “Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi ( orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya) “ (Az Zukhruf 86) مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ البقرة : 255 “ Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah kecuali seizin-Nya “ (Al Baqarah 255) Siapa yang berkeyakinan bahwa mereka (para wali) mengatur alam raya ini atau bahwa mereka mengetahui hal yang ghaib maka dia kafir berdasarkan firman Allah Ta’ala : للهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيْهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ المائدة :120 “ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu “ (Al Maidah 120) قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ [ النمل : 65 ] “ Katakanlah : “ Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah “ (An Naml 65) 

Firman Allah ta’ala memerintah-kan nabi-Nya yang dapat menghilang-kan kerancuan dan memperjelas yang haq: “ Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku, tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan . Aku tidak lain hanya pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang beriman “ (An Naml 188). (Dinukil dari : فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء 

Kumpulan Fatwa al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta, Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa Saudi Arabia. P.O. Box 1419 Riyadh 11431)

Bersin dan Menguap

Rasulullah bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس فحمد الله فحق على كل مسلم سمعه أن يشمته، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان فليرده ما استطاع، فإذا قال: ها، ضحك منه الشيطان )) صحيح البخاري في الأدب 6223
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta'alaa anhu, Rasulullah bersabda, "Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabil seseorang menguap dan terdengar bunyi: Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya". Shahih Bukhari, 6223.
Imam Ibn Hajar berkata, "Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan . Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fath-hul Baari: 10/6077)
Nabi menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut.
Rasulullah bersabda:
(( إذا عطس أحدكم فليقل الحمد لله، وليقل له أخوه أو صاحبه: يرحمك الله، فإذا قال له يرحمك الله فليقل: يهديكم الله ويصلح بالكم )) صحيح البخاري في الأدب: 6224
Apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah Al-Hamdulillah, dan hendaklah orang yang mendengarnya menjawab dengan Yarhamukallahu, dan bila dijawab demikian, maka balaslah dengan ucapan Yahdikumullahu wa Yushlihubaalakum (HR. Bukhari, 6224)
Dan para dokter di zaman sekarang mengatakan, "Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang kantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam !!! Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Maka, apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan "menguap" ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.
Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba' (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap
 (Lihat Al-Haqa'iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: hal 155)

Berobat Dengan Khomr ( Alkohol )

Apakah alkohol, khomr merupakan obat ataukah penyakit? Dr. Obery Louise, kepala bagian penyakit jiwa di Univ. London, juga sebagai nara sumber utama dan terkenal di bidang medis di Inggris mengatakan:
"Alkohol adalah satu-satunya penyakit yang banyak dikonsumsi secara luas di dunia saat ini. Ia ada di tangan setiap orang yang menginginkannya atau meninggalkannya. Oleh karena itu, orang banyak mengkonsumsinya sekehendak keinginannya yang akhirnya menyebabkan munculnya penyakit kegoncangan jiwa atau sering disebut dengan "psycho-pathic anomaly". Satu tegukan alkohol saja terkadang bisa menyebabkan mabuk dan menyebabkan kehilangan kendali syaraf dan akhirnya merusak segala yang ada disekitarnya; juga bisa menyebabkan "fly". Adapun orang yang terus-menerus minum khomr maka ia akan menjadi seorang alkoholik (kecanduan alkohol), ia akan banyak melanggar norma-norma akhlaq dan disertai sifat kegilaan."
Dan para dokter menduga di zaman dahulu dan zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan zaman setelah beliau sampai abad-abad terakhir bahwa khomr memiliki manfaat bagi kesehatan, kemudian sejumlah penelitian medis pun menemukan data yang membatalkan anggapan-anggapan itu. Anggapan itu hanyalah dugaan dan perkataan Al-Shadiq Al-Mashduq (Sang jujur dan diakui kejujurannya, Nabi Muhammad -pent) itulah yang benar yang tidak ada keraguan ataupun salah-faham pada kebenaran ucapannya.
Rasulullah pernah berbicara kepada Thariq Al-Ju'afiy ketika meminta disediakan khomr, maka Rasulullah melarangnya. Maka Thariq berkata, bahwa ia meminumnya sekedar untuk obat, maka Rasulullah menjawab, "Khomr bukan obat, akan tetapi penyakit!!" HR. Muslim dan Tirmidzi.
Dari Abu Hurairah, "Rasulullah melarang berobat dengan sesuatu yang jelek." HR. Abu Daud
Masih dalam Sunnan Abu Daud, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan barang haram."
Dan dari Thariq ibn Suwaid Al-Hadhrami, aku berkata kepada Rasulullah bahwa didaerah kami ada anggur-anggur, kami memeras dan meminumnya, dan kami menggunakannya untuk mengobati orang yang sedang sakit. Maka Rasulullah bersabda, "Itu (anggur perasan) bukanlah obat akan tetapi penyakit." HR. Muslim
Para mutaqadimin mengira bahwa khomr memiliki kandungan yang bermanfaat bagi manusia. Dalilnya adalah firman Allah:
يسألونك عن الخمر والميسر، قل فيهما أثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما
Mereka bertanya kepadamu tentang Khomr dan perjudian, katakanlah, "Di dalam keduanya terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia, akan tetapi dosa-dosanya lebih besar daripada manfaatnya. (Q.S. Al-Baqarah)
Maka, banyak para ulama yang membantah anggapan-anggapan demikian. Diantaranya adalah Imam Al-Shan'aniy. Beliau mengatakan dalam kitab Subul A-Salam, Kitab Al-Najmi Al-Wahhah, "Segala yang dikatakan para dokter bahwa khomr memiliki kandungan yang bermanfaat bagi manusia bila meminumnya adalah pengakuan Al-Qur'an akan kepercayaan manusia sebelumnya. Adapun setelah turunnya ayat dalam surat Al-Ma'idah:
يأيها الذين أمنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلم رجسٌ من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khomr, judi, qurban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah (lotere -pent) adalah perbuatan nista, salah satu perilaku syaithan, maka tinggalkanlah agar kalian beruntung (Q.S. Al-Maidah: 90)
Maka Allah ta'alaa, Sang Pencipta segala sesuatu, yang dampak negatifnya menjadi manfaat dalam satu hal tidaklah mungkin menjadikan sesuatu itu bermanfaat. Dengan hal ini,gugurlah alasan orang yang ingin menjadikan obat dengan khomr dan yang menukil ucapan ini dari Al-Rabi' dan Al-Dhahak. Dan dalam hal ini ada hadits dengan sanad yang sampai ke Al-Tsa'labiy dan yang lainnya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah ketika mengharamkan Khomr, menjadikan dampak negatifnya sebagai manfaat bagi manusia."
Dan "manfaat" ini tidak pasti, mungkin berupa manfaat materi bagi orang-orang yang menjualnya dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Akan tetapi, hal itu adalah kamuflase besar karena merugikan masyarakat dan kerugian material yang sangat banyak. Mungkin juga berupa manfaat kedokteran dan industrinya, dan mayoritasnya juga hanya anggapan. Semacam anggapan bahwa khomr bisa membangkitkan nafsu. Khomr dari dahulu dijadikan sebagai alat pembangkit nafsu atau selera yang digunakan oleh orang-orang Yunani, Romawi, Persia, Arab, bahkan mereka mendalami ilmu tentang hal ini. Dan orang-orang Eropa saat ini, khususnya Perancis menggunakannya juga untuk membangkitkan nafsu. Mereka menyebutnya dengan Apenibf, yaitu sang pembangkit selera. Dan kebiasaan mereka adalah mereka tidak mengkonsumsi makanan berat kecuali diawali dengan khomr terlebih dahulu. Demikian juga orang-orang Italia. Khomr adalah pembuka atau pembangkit nafsu atau selera untuk pertama kalinya, akan tetapi jika terus berlanjut maka kandungan HCl (Hydro Chloride)-nya bisa membahayakan tubuh, yaitu dis-fungsi organ-organ pencernaan dan daerah sekitarnya. Maka, setelah "manfaat" yang mereka peroleh dengan meneguk khomr, muncul bahaya, petaka yang tidak ringan lagi tidak sedikit; awalnya adalah disfungsi organ-organ dalam, kemudian hilangnya gairah, dan terakhirnya dalah kanker ganas.
Dan telah datang utusan dari Yaman dan utusan dari Madhramaut menemui Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan meminta agar dibolehkan meminum khomr sebab negeri mereka sedang dingin. Akan tetapi Rasulullah enggan mengizinkannya.
Dalam Sunan Abu Daud, disebutkan Dailam Al-Humairi meminta Nabi, "Wahai Rasulullah, kami dari negeri yang dingin, kami mengobati di sana sesuatu yang sangat berat dan kami menggunakan adonan gandum ini untuk menguatkan kegiatan kami dan menolong negeri kami. Maka Rasulullah bersabda, "Apakah adonan itu membuat kalian mabuk?" Dailam menjawab, "Ya." Rasulullah bersabda, "Maka, tinggalkanlah hal itu." Dailam mengatakan, "Akan tetapi manusia enggan meninggalkan adonan itu." Rasulullah menjawab, "Jika mereka enggan meninggalkannya, maka bunuhlah mereka." (Abm/ismdz)
Dr. Muhammad 'Ali Al-Bar -Kerajaan Saudi Arabia


Al-Qur’an Bicara Tentang Utuhnya Jasad Fir’aun, Ilmu Modern Membenarkannya!!!

Di dalam bukunya, “al-Qur’an Dan Ilmu Modern”, Dr Morris Bukay* menyingkap adanya kesesuaian antara informasi yang dipaparkan di dalam al-Qur’an mengenai nasib Fir’aun yang hidup pada masa nabi Musa (setelah ia tenggelam di laut) dan keberadaan jasadnya hingga hari ini sebagai tanda kebesaran Allah terhadap alam semesta ini. Dalam hal ini adalah firman Allah SWT, “Maka pada hari ini, Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak mempercayai kamu berdua.”(QS.Yunus:92)

Dr Bukay melanjutkan, “Riwayat versi Taurat yang terkait dengan kisah keberangkatan bangsa Yahudi bersama Musa AS dari Mesir menguatkan analisa yang mengatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir di masa nabi Musa AS. Penelitian medis terhadap mummi Mineptah mengemukakan kepada kita informasi penting lainnya mengenai apa kemungkinan penyebab kematian Fir’aun ini.

Sesungguhnya Taurat menyebutkan, jasad Fir’aun tersebut ditelan laut, akan tetapi tidak memberikan rincian mengenai apa yang terjadi setelah itu. Sedangkan al-Qur’an menyebutkan bahwa jasad Fir’aun yang dilaknat itu akan diselamatkan dari air sebagaimana yang tertera dalam ayat di atas. Pemeriksaan medis terhadap mummi ini menunjukkan, jasad tersebut tidak berada dalam waktu yang lama di dalam air sebab tidak ada tanda-tanda ia mengalami kerusakan (pembusukan) total akibat terendam lama di dalam air.**

Dr Morris telah menyebutkan, “Hasil-hasil beberapa penelitian medis mendukung analisa terdahulu. Pada tahun 1975, di Cairo berhasil dilakukan pengambilan salah satu sampel organ tubuh berkat bantuan berharga dari Prof Michfl Durigon. Pemeriksaan yang sangat teliti dengan microscop menunjukkan kondisi utuh yang sangat sempurna dari objek penelitian itu. Juga menunjukkan bahwa keutuhan yang sangat sempurna seperti ini tidak mungkin terjadi andai jasad tersebut berada (tenggelam) di dalam selama beberapa waktu, bahkan sekali pun ia berada untuk waktu yang sekian lama di luar air sebelum dilakukan langkah pengawetan pertama.

Kami sudah melakukan lebih dari itu dan menitikkan perhatian pada pencarian kemungkinan yang menjadi penyebab kematian Fir’aun di mana dilakukan penelitian medis legal terhadap mummi tersebut berkat bantuan Ceccaldi, direktur laboratorium satelit udara di Paris dan Prof Durigon.

Dalam pengecekan itu, tim medis berupaya mengetahui sebab di balik kematian ‘ekspress’ akibat adanya memar di bagian tengkorak kepala…

Jelaslah, bahwa setiap penelitian-penelitian ini sangat sesuai dengan kisah-kisah yang terdapat di dalam kitab-kitab suci yang menyiratkan bahwa Fir’aun sudah mati saat ombak menelannya.***

Dr Bukay juga menjelaskan aspek kemukjizatan kisah ini dengan mengatakan, “Di zaman di mana al-Qur’an telah sampai kepada umat manusia melalui jalur Muhammad SAW, jasad-jasad setiap Fir’aun -yang di zaman modern ini orang-orang masih ragu apakah benar mereka memiliki hubungan dengan peristiwa keluarnya Musa AS ataukah tidak?- ternyata masih tersimpan di dekat beberapa kuburan di lembah raja-raja di Theeba di tebing lainnya dari sisi sungai Nil di hadapan kota al-Aqshar sekarang ini.

Pada masa nabi Muhammad SAW, segala sesuatu tentang masalah ini masih misterius. Jasad-jasad ini belum tersingkap kecuali di penghujung abad 19 H.**** Dengan demikian, jasad Fir’aun Musa yang hingga saat ini masih dapat disaksikan dengan mata kepala dengan jelas dinilai sebagai persaksian materil atas jasad yang diawetkan milik seorang yang mengenal Musa AS, melawan semua permintaannya bahkan melakukan pengejaran atas pelariannya lalu mati di tengah aksi pengejaran itu. Allah menyelamatkan jasadnya dari kepunahan total agar menjadi pertanda kebesaran Allah bagi umat manusia sebagaimana yang disebutkan al-Qur’an al-Karim.*****

Informasi sejarah mengenai nasib jasad Fir’aun ini tidak ada dalam pengetahuan manusia mana pun saat al-Qur’an diturunkan bahkan sampai beberapa abad setelah turunnya padahal ia telah dijelaskan di dalam Kitabullah sebelum lebih dari 1400-an tahun lalu.
WALLAHU A'LAM
* Dokter berkewarganegaraan Perancis, ahli bedah dan termasuk dokter paling terkenal di Perancis. Ia memeluk Islam setelah melakukan penelitian secara mendalam terhadap al-Qur’an al-Karim dan kemukjizatan ilmiahnya
** al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Hadits, Dr Morris Bukay
*** Kitab al-Qu’an Wa al-‘Ilm al-Mu’ashir, Dr Morris Bukay, (terjemah ke dalam bahasa Arab Dr Muhammad Khair al-Biqa’iy)
**** Dirasah al-Kutub al-Muqaddasah Fi Dhaw’i al-Ma’arif al-Haditsah, Dr Morris Bukay, hal.269, Dar al-Ma’arif, Cet IV, 1977, dengan sedikit perubahan (dari asal versi bahasa Arabnya-red)
***** 

 

NETWORKEDBLOGS

MITRA LINK

WIDGEO

    blog-jasri.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

TUKAR LINK

SAHABAT

al-Ilmu Naafi' © 2012 | Template By Jasriman Sukri